10 Langkah Memulai Blog dengan WordPress – WordPress tampaknya masih menjadi platform blog primadona para penulis blog professional maupun pemula. Sampai tulisan ini terbit, posisinya masih berada diurutan pertama dalam tren pangsa pasar untuk sistem manajemen konten oleh W3Techs.

Kenapa WordPress begitu populer?

Untuk menjawabnya, mungkin Anda bisa mampir ke tulisan saya yang membahas tentang 10 alasan kenapa saya menggunakan WordPress. Saya harap, Anda bisa menemukan jawabannya di sana.

Nah, setelah Anda menemukan jawabannya, yang Anda perlukan berikutnya adalah cara mulai nge-blog dengan menggunakan WordPress.

Melalui artikel ini, saya akan coba bantu menjelaskan 10 langkah memulai blog dengan WordPress menurut persepsi dan sudut pandang pribadi. Baik WordPress self-host maupun WordPress.com.

1. Tentukan nama domain

Nama domain adalah nama identitas situs Anda. Domain bersifat unik. Maksudnya, Anda tidak bisa lagi menggunakan nama domain dengan TLD atau Top Level Domain yang sama.

Sebagai contoh, nama domain saya adalah “umam” dengan ccTLD atau country code top-Level Domain “.my.id”. Anda, yang mungkin juga bernama “Umam”, tidak bisa lagi menggunakan nama domain “umam” dengan ccTLD yang sama. Anda tetap bisa menggunakan nama domain “umam” tetapi dengan TLD atau ccTLD yang berbeda.

Oiya, nama domain tidak bisa menjadi milik kita secara permanen, ya, karena sistem nama domain adalah sewa. Jadi, Anda harus tetap memantau kapan Anda harus segera memperpanjang masa sewanya.

Lebih lanjut terkait nama domain, Anda bisa membaca tulisan saya terkait mengenal nama domain internet beserta fungsinya.

WordPress self-host

Bagi Anda yang memperhitungkan akan menggunakan WordPress self-host, Anda memiliki keleluasaan penuh dalam menentukan nama domain yang akan Anda gunakan. Mengingat sifatnya WordPress self-host dapat diunduh dan dipasang sendiri, sehingga Anda bisa menentukan domain Anda sendiri.

WordPress.com

Buat Anda yang ingin memulai tanpa perlu bingung menentukan nama domain, platform WordPress.com cocok untuk Anda. Anda hanya perlu memasukkan nama domain yang Anda inginkan. Secara otomatis, WordPress.com akan menampilkan nama domain dengan beberapa TLD. Anda tinggal memilih yang ber-akhir-an .wordpress.com. Gratis!.

2. Pilih layanan hosting yang berkualitas

Hosting merupakan tempat dimana Anda menyimpan semua aset dari situs, basis data, dan beberapa pengaturan lain. Menggunakan layanan hosting sangat saya sarankan untuk Anda yang belum terbiasa dengan konfigurasi web server dan beberapa kebutuhan lain untuk menjalankan WordPress.

Lantas, layanan hosting mana yang paling direkomendasikan?

Terkait layanan hosting mana yang direkomendasikan, mungkin saya akan bantu menjawab pada sisi spesifikasi saja.

Layanan hosting yang paling saya rekomendasikan adalah layanan hosting yang; menyediakan panel web cPanel, menggunakan LiteSpeed sebagai web server, menyediakan unlimeted bandwidth bahkan untuk paket termurah, dukungan 7×24 jam, memiliki opsi penyewaan dan pembayaran yang fleksibel, menggunakan penyimpanan SSD, dan lokasi pusat data di Indonesia.

WordPress self-host

Untuk dapat menjalankan WordPress self-host sebagai manajemen konten, Anda perlu mesin hosting dengan penyimpanan minimal 500MB dengan RAM 768MB. Anda bisa menanyakan kepastian kapasitas kepada pengelola layanan hosting Anda.

Hanya saja, biasanya, layanan hosting yang murah menggunakan konsep sharing. Dimana satu host atau mesin digunakan oleh banyak akun sekaligus.

WordPress.com

Untuk dapat menjalankan WordPress.com, Anda tidak perlu memikirkan masalah hosting. Semua kebutuhan mesin sudah di-handle by system. Yang Anda butuhkan hanya melakukan pendaftaran dan setup dengan langkah-langkah yang mudah. Anda juga akan mendapatkan free space 3GB penyimpanan.

3. Jangan lupa, selalu gunakan HTTPS

Udah 2020, tapi situs web masih gak pake HTTPS, kebangetan!. Ini opsi yang wajib. Fardu ain.

Baik WordPress self-host, maupun WordPress.com, keduanya harus menggunakan koneksi aman. Berbeda dengan WordPress.com yang sudah include koneksi aman berkat wildcard pada domain WordPress.com. WordPress self-host harus membuat koneksi amannya sendiri.

Layanan hosting biasanya sudah menyiapkan opsi untuk memasang SSL untuk domain yang sudah Anda ikat ke hosting-nya. Tinggal klak-klik saja. Situs Anda sudah bisa diakses melalui HTTPS.

Kenyamanan layanan hosting tidak akan pernah Anda dapatkan di VPS. Ada yang bikin nyaman, malah pake yang serba ribet. Ya saya ini.

4. Tentukan tema yang akan Anda gunakan

Bagi WordPress, baik itu self-host, maupun WordPress.com, tema adalah bagian yang sangat penting. Tema langsung berhubungan dengan pengguna dan calon pengunjung.

Dipoin ke empat ini, tampaknya pengguna WordPress self-host lebih diuntungkan dari pada pengguna WordPress.com. Selain bisa mengunggah tema, pengguna WordPress self-host juga bisa menggunakan fitur tema turunan WordPress. Pasanglah setidaknya dua tema. Satu tema bawaan, yang lain tema custom Anda.

Bagi pengguna WordPress.com, Anda juga bisa mengganti tema, kok. Hanya saja, terbatas dengan tema yang disediakan oleh WordPress.com yang dapat diakses dari dasbor admin.

5. Tentukan jumlah plugin yang akan dipasang

Plugin merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan WordPress. Anda bisa nemambahkan fitur baru dengan mudah dengan hanya memasang plugin yang Anda inginkan.

Sayangnya, bagian ini hanya tersedia untuk WordPress self-host dan WordPress.com dengan paket bisnis.

Berikut beberapa plugin yang saya rekomendasikan untuk Anda:

  1. Jetpack by WordPress.com. Jika Anda ingin mengintegrasikan kemampuan WordPress.com ke WordPress self-host Anda.
  2. Site Kit by Google. Hubungkan mesin analisis, search console, PageSpeed, Optimize, manajer tagar, dan Andsense di satu tempat.
  3. YoastSEO. Learn SEO by doing. Recommended!.
  4. Disable Sitemap. Untuk menghapus fungsi sitemap bawaan WordPress.
  5. UpdraftPlus. Untuk mencadangkan atau mengembalikan aset situs.
  6. Accelerated Mobile Pages (AMP). Arahkan semua trafik dari mobile ke AMP secara otomatis. Recommended!.
  7. WP Super Cache. Percepat akses ke situs Anda dengan fitur caching.

Ingat, hanya pasang plugin yang Anda butuhkan saja!.

6. Tentukan Struktur URL

Secara default, WordPress menggunakan format URL tanggal dan nama. Agar lebih SEO friendly, Anda harus mengubahnya menjadi format URL nama tulisan.

Untuk mengubah format URL atau permalink, Anda bisa melakukannya dengan cara masuk ke dasbor WordPress, arahkan kursor ke menu Pengaturan, lalu pilih Permalink. Dilaman Permalink ini, Anda juga bisa menyesuaikan kategori dan tagar.

Sayangnya, fitur ini hanya tersedia untuk WordPress self-host. Untuk WordPress.com, saya sendiri kurang tahu dipaket apa fitur ini diaktifkan.

7. Tentukan kategori blog

Kategori adalah cara bagaimana Anda mengelompokkan topik yang Anda ulas di blog Anda. Selain kategori, ada juga tagar. Tentukanlah beberapa kategori untuk mengumpulkan tulisan Anda.

Dengan menggunakan kategori, secara tidak langsung Anda sudah mengelompokkan postingan sesuai topik asal yang sebelumnya sudah Anda tentukan.

8. Tentukan navigasi blog

Navigasi dapat membantu pengunjung untuk mengeksplorasi situs Anda dengan nyaman. Ketika pengunjung membutuhkan artikel dikategori makanan, misalnya, mereka tinggal mengeklik menu yang sudah Anda tepatkan dinavigasi situs.

Secara umum, situs web memiliki setidaknya dua hingga tiga menu navigasi.

Navigasi-navigasi tersebut biasanya dinamakan menu utama, menu kedua dan menu ketiga. Masing-masing menu memeiliki fungsinya sendiri-sendiri.

Menu utama, biasanya digunakan untuk meletakkan kategori-kategori utama situs web Anda.

Menu kedua atau secondary menu biasanya digunakan untuk menautkan ke halaman-halaman penting situs, misalnya kebijakan privasi, ketentuan layanan, sanggahan, informasi kontak situs, peta situs, dan tentang situs.

Blog profesional setidaknya harus memiliki kedua menu di atas.

Lalu, bagaimana dengan menu ketiga?

Menu ketiga sifatnya optional dan biasanya hanya tema-tema premium yang menyediakan tempat untuk menu ini. Untuk situs web profesional, menu ketiga ini digunakan untuk meletakkan tautan yang mengarah ke sosial media mereka.

9. Pelajari SEO

Ini sangat penting!. Jika Anda ingin postingan atau situs web Anda terpampang di hasil pencarian mesin pencari, seperti Google, Bing, dan sebagainya, Anda harus belajar SEO.

Dipoin ini, ada beberapa perbedaan perilaku antara WordPress self-host dengan WordPress.com dalam hal bagaimana situs Anda agar dikenali oleh mesin pencari.

Bagi Anda pengguna WordPress self-host, Anda setidaknya harus menggunakan satu plugin yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan peta situs dalam format .xml. Tanpa menggunakan plugin-pun, sebenarnya WordPress versi 5.5 juga sudah memiliki kemampuan tersebut, tapi entah kenapa, untuk kebutuhan peta situs XML, saya lebih suka menggunakan plugin. Dengan berbekal peta situs tersebut, Anda bisa mengenalkan situs web Anda ke masing-masing mesin pencari.

Bagi pengguna WordPress.com, tampaknya Anda hanya perlu mempelajari SEO on page-nya saja. Meriset kata kunci, membuat judul SEO, meletakkan kata kunci di postingan dan sebagainya. Urusan pengenalan situs sudah dilakukan secara otomatis oleh sistem WordPress.com itu sendiri.

Khusus SEO on page, tampaknya pengguna WordPress self-host bisa sedikit lebih tenang dari pada pengguna WordPress.com. Pasalnya, pengguna WordPress self-host bisa memasang plugin khusus SEO. Katakanlah YoastSEO. Yoast memiliki fitur untuk memantau format penulisan. Jika Anda menulis tanpa mengikuti kaidah SEO, Yoast akan memberikan informasi terkait kekurangan dan apa yang Anda butuhkan untuk memperbaiki tulisan Anda.

10. Mulailah menulis

Poin ke-10 dari 10 langkah memulai blog dengan WordPress adalah mulailah menulis topik-topik yang Anda sukai atau topik yang sedang hangat dibicarakan oleh warganet.

Carilah beberapa kata kunci sesuai dengan topik yang ingin Anda angkat di postingan Anda. Anda bisa menggunakan pencarian mesin pencari atau dengan bantuan alat untuk melakukannya. Beberapa alat yang bisa Anda manfaatkan untuk meriset kata kunci antara lain adalah Ubersugest dan Google Trend.

Jika Anda mengejar posisi di halaman pertama mesin pencari, Anda harus menulis sesuai dengan kaidah SEO. Dengan Yoast, Anda bisa langsung learn SEO by doing di editor Gutenberg kesayangan Anda.

Kesimpulan

Baik WordPress self-host maupun WordPress.com, keduanya menjadi pilihan bagus untuk memulai blog Anda. Kebutuhan untuk menggunakan keduanya memang tergantung dari kondisi finansial pribadi. Jika Anda belum punya uang untuk menyewa nama domain dan hosting, pilihan untuk memulai dengan WordPress.com adalah pilihan yang terbaik.

Jauh sebelum situs ini ada, saya sudah memulainya dengan layanan yang disediakan WordPress.com. Waktu itu sekitar tahun 2017, jika dilihat dari postingan pertama saya di chotibulstudio.wordpress.com yang sudah saya migrasikan ke chotibulstudio.id.

Waktu itu, saya masih kuliah semester 6 kalau gak semester 7. Uang masih minta ke orang tua cuman buat beli bensin dan minum saja. Mana cukup untuk menyewa domain dan hosting. Prioritas utama saya waktu itu adalah menyelesaikan studi dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Tapi tetap saja mbleset alias nambah satu semester lagi.

Saya harus memulai. Karena saya adalah tipe orang pelupa. Jadi, blog sudah menjadi kebutuhan wajib bagi saya. Untuk menulis segala sesuatu yang sudah berhasil saya pecahkan. Ribetkan kalau harus nyari jalan keluar dari permasalahan yang sudah pernah diatasi.

Demikian 10 langkah memulai blog dengan WordPress. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk saya, Anda dan orang-orang yang Anda cintai.