Kegiatan Sertifikasi Kompetensi TIK Berbasis SKKNI Sukses Diadakan di Mojokerto

Siang yang amat panas tanpa adanya kabar kapan akan kembali turun hujan masih menyelimuti kawasan Sukodono, Sidoarjo, saat itu (29/08). Empat hari yang lalu. Sayup-sayup berita duka disuarakan melalui pengeras suara masjid desa dan saya masih enggan meninggalkan pekerjaan yang tak kunjung usai.

Meskipun masih dalam pw (posisi wenak), saya paksakan untuk segera mengeksekusi baris perintah terakhir, sudo poweroff, saya segerakan bersih-bersih badan dan bersiap-siap untuk bertakziah.

Namun, sepertinya Tuhan telah membalikkan niat saya tersebut dengan masuknya panggilan yang tak terjawab sebanyak tiga kali dari Pak Kusairi, salah satu tim BPSDMP Kominfo Surabaya, saya tidak bisa mengangkatnya, badan saya masih penuh dengan sabun mandi.

Barulah setelah selesai membersihkan badan, tampak pada notifikasi beberapa pesan juga dikirimkan oleh Pak Kusairi. “Tolong angkat telepon ini bro, penting” begitu kira-kira isi pesannya. Segera saja saya menghubungi beliau untuk meminta maaf tidak dapat mengangkat telepon dengan segera.

Tanpa diduga, beliau menawarkan sesuatu yang amat sangat saya perlukan sejak lama. Selama sejak saya dinyatakan lulus dari bangku SMK. Apalagi, beliau berujar acaranya free dan mendapat pendanaan penuh dari BPSDMP Kominfo Surabaya. Kesempatan mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.

Saya hanya perlu menyiapkan beberapa persyaratan yang memang sudah ada di rumah, hanya tinggal fotocopy kartu kependudukan yang ketelisut entah kemana. Berpakaian atasan putih dan bercelana hitam. Sial, celana hitamnya sedang dalam antrian di tempat cucian.

Gupuh kabeh, mungkin itu yang saya rasakan, Ibu masih takziah, di rumah hanya ada saya. Tanpa fikir panjang saya menyabet tiga t-shirt, satu sarung, satu baju putih dalri lemari dan menyiapkan beberapa berkas persyaratan untuk saya masukkan kedalam ransel.

Saat akan keluar rumah Ibu sudah sampai di teras rumah. Saya berpamitan bahwa akan mengikuti kegiatan sertifikasi selama empat hari tiga malam. Beliau juga menanyakan apakah saya membawa laptop, saya bilang mungkin tidak perlu. Karena saya beranggapan mungkin sertifikasi ini berupa ujian tulis saja.

Tanpa banyak ba-bi-bu, ku tarik tuas gas motor dan menjauh meninggalkan rumah menuju tempat yang telah ditentukan oleh Pak Kusairi, Hotel Ayola Sunrise Mojokerto. Beruntung, kondisi jalan raya lumayan sepi.

Perkiraan dari peta digital sekitar 1 jam lebih beberapa menit waktu yang saya butuhkan untuk sampai di Sunrise Mojokerto. Berkendara dengan kecepatan maksimal 60 KM/jam, lenggangnya jalan raya sehingga tidak terasa sampai di Kota Mojokerto.

Hari Pertama Sertifikasi Kompetensi

Untuk memasuki kawasan Hotel Ayola, saya harus melewati gerbang parkir motor dan menuju tempat parkir yang berjarak sekitar 500 meter dari jalan raya. Setelah memarkirkan motor, saya bertanya ke Pak Satpam kemana jalan menuju Hotel Ayola, dia merekomendasikan saya untuk masuk dari pintu utama toko Matahari.

Komplek Hotel Ayola menjadi satu dengan pusat pembelanjaan di Kota Mojokerto, Sunrise Mojokerto. Tentu ini sangat memudahkan bagi pengunjung bila ingin membeli keperluan atau sekedar mencari hiburan.

Keluar dari pusat pertokoan melalui pintu sebelah barat, pintu utama Hotel Ayola telah terpampang didepan mata. Saya memasuki pintu kaca dan segera menanyakan tempat diselenggaranya acara KOMINFO ke Mbak Resepsionis, dia memberikan informasi acara diadakan di ballroom yang berada di lantai 3 dengan didukung dengan papan informasi yang bertuliskan KOMINFO (BPSDMP) 3rd floor.

Saya memanfaatkan lift untuk naik ke lantai tiga. Saat setelah keluar dari lift saya bertemu dengan Pak Bagus, saya bersalaman dengan beliau dan mengobrol beberapa kata, setelah itu beliau mempersilahkan saya untuk segera memasuki ruangan yang dimaksudkan.

Belum sampai saya memasuki ruangan, Pak Kusairi sudah menyambut saya. Beliau menggandeng saya menuju meja registrasi yang berada didalam ruangan dan dilayani oleh Mbak Nesti.

Saat saya sedang mengisi daftar hadir, saya menoleh ke arah kiri, terlihat seorang yang tidak asing bagi saya, saya menanyakan nama orang tersebut ke Mbak Nesti, ternyata benar, beliau adalah Pak Aryo Nugroho, Co Founder CATFIZ sekaligus dosen di salah satu universitas di Surabaya. Setelah mengisi daftar hadir saya menyapa Pak Aryo dan bersalaman. Dengan segera saya membaur dengan kawan-kawan yang sudah lebih dulu ada diruangan.

Saya duduk di kursi nomor tiga dari belakang, disitu sudah ada orang lain yang menduduki kursi seorang diri, saya menghampirinya dan memohon ijin untuk duduk didekatnya. Belakangan saya mengetahui namanya Andi, teman Yokoo semasa SMK.

Dari tempat duduk itu saya mencari-cari orang yang mungkin saja saya kenal dan saya beruntung sekali. Dari belakang tampak beberapa teman yang memang sudah tidak asing lagi bagi saya. Ada Yokoo, Senpai Indra, Mbak Uci, Mbak Tika dan Mas Novan, mereka adalah senior saya di tempat kami menimba ilmu, selain Yokoo, dia satu angkatan dengan saya.

Sore itu, Pak Aryo mengisi materi mengenai panduan uji kompetensi. Beliau memaparkan setidaknya tuju skema sertifikasi yang telah dipilih oleh masing-masing peserta.

Masing-masing sekema sertifikasi tersebut adalah pemrograman basis data, digital imaging, help desk, junior networking, junior networking, junior technical support dan practical office advanced. Saya kurang mengerti mengenai jumlah peserta masing-masing klaster, akan tetapi JN memiliki jumlah peserta yang relatif lebih banyak dari pada klaster yang lain. Panduan masing-masing klaster dapat diunduh di lsptik.or.id/skema.

Pak Aryo saat menjelaskan masing-masing klaster

Setelah Pak Aryo menjelaskan masing-masing klaster, beliau memberikan kesempatan kepada peserta untuk menentukan kembali pilihannya hanya sampai pada esok pagi sebelum dimulainya sertifikasi.

Satu, dua, teman-teman mulai tampak gelisah, khususnya yang ingin mengambil kluster pemrograman basis data, pasalnya permintaan atau rincian unit sertifikasi memang sangat tinggi. Saya mengira hanya berkutat pada dasar-dasar basis data seperti DDL (Data Definition Language), DML (Data Manipulation Language) dan Trigger saja, ternyata lebih berat dari pada itu.

Hanya dengan mengira-ngira saja tidak cukup, Pak Aryo kemudian mengumpulkan masing-masing klaster agar menjadi satu untuk melakukan tes awal yang berguna untuk mengukur tingkat kemampuan peserta dalam menentukan pilihannya.

Sebelum itu dijalankan, Pak Aryo ingin membentuk ketua kelas yang berguna sebagai penerus informasi dari panitia kepada peserta. Mula-mula menggunakan sistem penawaran, beliau mempersilahkan siapa saja yang ingin menjadi ketua kelas.

Tiba-tiba, Mbak Nesti maju kedepan dan langsung mengusulkan nama saya. Secara spontan mulut saya berucap Astaghfirullah. Kaget saya. Hla ini kok tiba-tiba pakai sistem todong-menodong begini. Hahaha. Tapi ada baiknya juga, kalau masih pakai sistem tawar-menawar mungkin gak bakal selesai juga. Akhirnya dengan jiwa kerelawanan, saya menerima keputusan itu. Toh ini juga yang bisa membuat saya lebih dekat dengan teman-teman yang lain.

Acara dilanjutkan dengan mengatur pembagian tempat yang dipimpin langsung oleh Pak Aryo hingga formasi baru terbentuk.

Beberapa panitia dari LSP TIK Indonesia tampak mulai membagikan soal pretest. Deg-degan juga sih. Yang terfikirkan oleh saya saat itu adalah seperti apa soal yang akan dikerjakan oleh klaster JN. Pikiran sudah mulai ngajak ruwet duluan. Membayangkan subnetting. Hanya subnetting yang saya takutkan, karena saya sering bleset kalau menghitung subnet. Kadang lupa rumus, istilah, bahkan terkadang blank sepenuhnya. Lupa total. Mungkin salah saya juga tidak pernah membuat dokumentasi.

Ada momen yang membuat sebagian peserta tertawa, khususnya klaster tertentu. Setelah panitia memperbolehkan untuk mengerjakan soal-soal tersebut, satu-persatu teman-teman yang mengambil pemrograman basis data, yang hanya ada sekitar empat orang, mulai mreteli, mengajukan pindah ke klaster lain. Begitu juga terjadi pada klaster junior programming dan junior networking.

Bukan hanya mereka, saya baru membaca soal nomor satu yang memiliki sebuah studi kasus, tiga ketentuan dan klasifikasi pengerjaan dan dua model yang harus dikerjakan sudah membuat kringat dingin berkucuran. Tapi saya tetap memaksa keinginan untuk tidak pindah kelain klaster. Saya mantap di JN apapun yang terjadi. Gak mau menyerah sebelum berperang.

Diskusi terkait soal pretest

Perasaan sedikit lega ketika Pak Aryo membolehkan kami untuk saling berdiskusi, saya muter-muter kesana kemari, berdiskusi dengan hal yang sebelumnya saya belum pernah fikirkan. Bagaimana cara menghubungkan topologi bus, ring dan star pada studi kasus yang ada ?, Harus pakek router apa hanya mengandalkan satu server yang harus memiliki tiga jenis NIC, kalau router apa ada kira-kira router yang memiliki koneksi konektor female BNC?. Intinya, kerjakan dulu soal-soal yang mudah, baru ngulik soal yang rumit.

Kegiatan ini berakhir menjelang makan malam. Sebelum peserta dipersilahkan meninggalkan ruangan, panitia memberikan akses ke kamar dan disesuaikan dengan klasternya masing-masing, tujuannya agar lebih mudah dalam berdiskusi. Setelah menaruh barang bawaan di kamar masing-masing, barulah mereka menikmati santap malam.

Setelah perut terisi, bukan anak teknik namanya kalau langsung tidur, iya kan?. Kami harus mengutak-atik beberapa macam soal yang belum bisa kami selesaikan. Saya dan Yokoo bahkan bisa tidur dengan nyenyak pada jam 1:00 WIB dini hari.

Hari Kedua Sertifikasi Kompetensi

Esok harinya (30/08), saya sempat mencoba mengotak-atik teknik subnetting yang semalam telah saya buat, setelah merasa cukup memahami, saya membersihkan badan bergantian dengan Yokoo. Kita juga sudah harus berpakaian dengan rapi, karena kegiatan akan dimulai tepat pukul 8:00 WIB.

Sarapan berjalan dengan kondusif, selesai sarapan kami bergegas masuk ke dalam ballroom dengan formasi duduk seperti yang sudah dirancang sebelumnya.

Pak Aryo kembali menyapa kami. Kegiatan pagi ini adalah mengulas kembali soal-soal yang sebelumnya dikerjakan pada sesi pretest selama 30 menit. Waktu terus berjalan, Pak Aryo mengumumkan kepada para peserta, bagi yang tidak membawa laptop dapat meminjamnya ke panitia LSP TIK Indonedia, Mbak Nesti, dengan memberikan SIM sebagai jaminan. Saya salah satu peserta yang melakukan peminjaman laptop tersebut.

Waktu untuk mengulas kembali soal-soal kemarin telah selesai. Detik-detik menegangkan dimulai. Panitia LSP TIK Indonesia tampak membagikan kertas soal dan jawaban. Mulai dari help desk, junior programming, POA, dan giliran kami, JN.

Seluruh peserta telah mendapatkan soal, namun panitia menghimbau untuk tidak membukanya dahulu. Makin deg-degan aja nih. Pengen untuk sekedar mengintip biar lega. Saya hanya perlu tau soalnya apaan.

Panitia memberikan aba-aba untuk memulai. Pertama-tama peserta diharapkan membaca petunjuk yang ada pada masing-masing soal. Klaster JN mendapatkan enam soal esai dan dua soal praktikum. Masing-masing jenis soal hanya memiliki waktu pengerjaan 45 menit, jadi total waktu keseluruhan untuk mengerjakan soal esai dan praktikum adalah 90 menit. Boom!.

Kami mulai mengerjakan soal esai. Seperti soal pretest kemarin, saya lebih suka mengerjakan soal yang mudah. Waktu terus berjalan.

Ada satu soal esai yang membuat saya bingung. Kira-kira bunyi soal tersebut seperti ini “jelaskan langkah-langkah pemasangan kabel jaringan secara horizontal!”. Korban virtualisasi seperti saya mungkin juga akan bingung. Tapi soal itu harus terisi. Akhirnya saya menjawab seadanya saja, sesuai kondisi lapangan yang pernah saya lihat secara langsung.

Seluruh soal esai berhasil saya jawab. Tidak semuanya sih, ada satu soal yang saya jawab dengan teknik mengarang bebas. Asal masih sesuai dan relevan, menurut saya.

Kini giliran soal praktikum. Memasang kabel tipe crossover dan mengimplementasikan satu soal esai pada aplikasi simulasi jaringan, Packet Tracer. Kabel jaringan beres, kini tinggal membuat simulasinya.

Saya menancapkan kabel charger laptop yang saya pinjam dari LSP TIK Indonesia pada stop kontak yang telah disediakan pihak hotel. Saat setelah saya menancapkan ujung charger port ke tempat pengisian daya di laptop, inilah momen yang paling menghabiskan waktu. Kurang hoki bagi saya. Pasalnya setelah mengeklik tombol power laptop tidak juga melakukan booting.

Saya mencoba bertanya ke teman belakang saya, kebetulan dia juga meminjam laptop di LSP TIK Indonesia. Dia bilang memang proses boot agak lama.

Hampir 10 menit saya cuman menunggu, tetap saja si laptop gak mau boot. Saya mencoba memperhatikan dengan lebih seksama. Nah, saya beranggapan kalau si laptop ini ada yang bermasalah dibagian RAM atau prosesor-nya. Indikasinya adalah mesin si laptop berjalan dengan normal, tapi display tetap blank hitam dan hanya lampu indikator kamera yang menyala-mati, menyala-mati.

Panitia mengumumkan waktu beberapa kluster seperti JN, kurang 20 menit lagi. Damn!. Hanya ada satu opsi yang dapat saya saya lakukan saat ini, menukarkan laptop tersebut ke pihak penyelenggara. Syukurlah, panitia masih memiliki persediaan satu unit laptop yang dapat saya gunakan.

Setelah menerima laptop baru, saya bergegas ke tempat duduk dan segera mengeksekusi soal-soal praktimun. Tiba-tiba salah seorang assessor memberikan peringatan pertamanya bahwa waktu pengerjaan untuk klaster JN sudah selesai, kami dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan. Hiks, posisi saya masih baru menyalakan laptop.

Kami, klaster JN, tidak serta merta bergegas meninggalkan ruangan. Yah, kami masih belum menyelesaikan tugas-tugas praktikum. Apalagi saya, baru berhasil membuka Packet Tracer. Teman-teman tidak bergeming sedikit-pun dengan peringatan pertama, mereka terus mengerjakan.

Peringatan kedua dibunyikan assessor. Mereka belum bergeming sedikit-pun. Barulah ketika assessor menyerukan peringatan ketiga disertai pemberitahuan bahwa yang belum selesai dapat dilanjutkan esok hari. Fuuuh… Lega rasanya. Para assessor juga menyerukan agar kami berada didekat ballroom agar ketika ada panggilan untuk melakukan demonstrasi mereka dengan mudah memanggilnya.

Teman-teman mulai meninggalkan ruangan dan menikmani hidangan coffee break yang sudah disediakan. Kopi, ini yang saya butuhkan disaat seperti ini. Waktu juga sudah menunjukkan waktu ISHOMA.

Hiasan meja makan resto Hotel Ayola Mojokerto

Didepan ruangan, tim dari BPSDMP Kominfo Surabaya telah menunggu kami. Alhamdulillah, mereka membagi-bagikan tas berwarna hitam-merah. Untuk mendapatkannya, peserta hanya tinggal melakukan absensi sebanyak enam kali. Isinya bikin anak teknik berbunga-bunga. Anda kepo? pembahasannya akan saya sertakan diakhir cerita saya.

Beberapa assessor tampak mendampingi peserta yang demo projek

Klaster lain mulai mendapat panggilan, dimana para assessor tidak menyebutkan nama masing-masing peserta, melainkan hanya menginstruksikan dua orang untuk melakukan demonstrasi. Ah, kalau seperti ini, mendingan saya maju esok pagi saja.

Ditengah-tengah situasi seperti saat ini, saya mendapatkan sudo dari Mbak Nesti untuk mencarikan tiga orang. Ada tiga orang pendaftar yang diterima namun tidak melakukan konfirmasi apakah bisa ikut acara atau tidak, pihak LSP TIK Indonesia juga sudah berusaha menghubungi mereka, namun tidak ada jawaban. Diprioritaskan orang dari Mojokerto dan harus sampai maksimal pada jam 18:00 WIB.

Saya teringat dengan teman satu jurusan dan satu tim saat kegiatan KKN berlangsung, Bagus namanya, saya berharap dia masih berada di Mojokerto, tidak di kos di dekat kampus di Surabaya.

Saya langsung menghubunginya via aplikasi perpesanan, namun sial, dia ternyata sudah berada di Surabaya. Saya tetap memaksanya untuk bisa hadir, karena belum tentu tahun depan ada kegiatan lagi seperti ini di daerah dekat tempat tinggal.

Bagus akhirnya menyetujuinya, saya merasa lega sekali. Kini tinggal dua orang lagi. Saya mencoba membagikan informasi ini ke grup-grup layanan perpesanan yang saya ikuti, namun responnya tidak ada yang memuaskan.

Saya berkordinasi terus dengan Mbak Nesti mengenai hal ini. Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di hp saya. Teman dari fakultas mengirimi saya pesan terkait hal yang sudah saya sebarkan di grup. Saya langsung menelfonnya dan menanyakan apakah dia sanggup untuk datang tidak sampai jam yang sudah saya tentukan atau tidak. Sayang sekali, dia tidak bisa kalau harus berangkat segera.

Mbak Nesti juga memanggil seorang temannya yang kebetulan ikut pada sertifikasi ini untuk mengajak satu orang lagi untuk ikut kegiatan ini dan berhasil. Kini tinggal satu orang saja agar absensi dapat terpenuhi.

Saya hanya mengharapkan si Bagus dapat sampai sebelum waktu yang telah ditentukan. Benar saja, tidak seberapa lama Bagus memberi kabar kalau dia sudah sampai di Sunrise Mojokerto. Mantap betul nih orang. Saya langung menyuruhnya agar segera ke lantai tiga dan segera menghadap ke panitia.

Saya mengantar Bagus ke Mbak Nesti untuk melakukan registrasi. Si Bagus juga malah diberi akses sudo untuk mencari seorang lagi untuk menutupi absesi yang masih bolong. Bagus tampak menghubungi beberapa orang temannya, akhirnya ada satu orang temannya yang menyanggupi hadir.

Setelah melakukan registrasi, saya mengantar Bagus ke kamar yang saya dan Yokoo tempati. Saya mempersilahkan Bagus untuk leyeh-leyeh sebentar setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Bisa dibilang PP Moker – Sby. Setelah merasa cukup kami bergegas kembali ke lantai tiga untuk menikmati kopi dan beberapa cemilan.

Menjelang maghrib, Bagus mendapatkan kabar kalau temannya, Abi, sudah berada di dalam Sunrise Mall. Saya dan Bagus bergegas menyusulnya. Setelah kami bertemu, saya langsung mengajaknya ke tempat registrasi.

Sesampainya ditempat registrasi, Mbak Nesti mempersilahkan Abi untuk mengisi formulir registrasi sekaligus memilih klaster yang akan diikuti. Setelah selesai, Abi kemudian diberi kontak rekan sekamarnya yang berada di lantai paling atas.

Saya bergegas kembali ke kamar untuk membersihkan badan. Setelah itu turun dan bergabung dengan teman-teman di lantai tiga untuk santap malam bersama.

Setelah makan malam, saya, Yokoo, Andi, dan Khoirul menyempatkan berjalan-lajan ke Carrefour untuk membali beberapa kebutuhan. Setelah itu kami segera kembali ke kamar masing-masing.

Malam ini menjadi malam yang penuh dengan trial and error, berbagai skema dan konfigurasi telah saya coba. Memantapkannya agar esok pagi siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.

Hari Ketiga Sertifikasi Kompetensi

Pagi kembali menyapa kami (31/08). Kupaksakan tubuh yang masih dalam proses rebuilding masuk kedalam kamar mandi dan bergegas kembali ke lantai tiga, bergabung dengan teman-teman disana. Hari ini merupakan penentuan tingkat kompetensi yang saya miliki. Lulus atau pupus.

Santap pagi saya akhiri dengan sepotong omlet dan segelas air mineral. Saya dan beberapa kawan-kawan bergegas masuk ke ballroom yang sudah kami gunakan sejak dua hari yang lalu.

Yokoo dan suasana pagi di lantai 9 Hotel Ayola Mojokerto

Sebetulnya, pagi itu projek saya masih belum bisa dikatakan working dengan baik. Padahal masalahnya sangat-sangat sepele, itu-pun saya tahu dari kawan-kawan yang lain. Tapi bagaimana-pun juga, saya siap dengan segala kemungkinan yang ada.

Pagi ini tidak ada pembukaan acara seperti hari-hari sebelumnya, assessor hanya meneruskan kelanjutan dari sesi demonstrasi projek yang sudah dikerjakan. Dimana para peminjam laptop dari LSP TIK Indonesia yang mendapatkan giliran pertama untuk mendemokan projeknya.

Selagi assessor memberikan pengarahan, saya masih fokus pada projek saya sendiri. Perlu diotak-atik sedikit lagi dan alhamdulillah, working fine.

Klaster JN ada sekitar enam orang yang harus stay di tempatnya masing-masing. Dari arah belakang, assessor maju menghampiri saya. Saya mendapat kesempatan diuji pertama kali oleh Pak Fachrul Kurniawan.

Setelah menyampaikan salam, Pak Fachrul langsung menyekoki saya dengan berbagai pertanyaan yang sesuai dengan kurikulum pada panduan uji kompetensi.

Beragam pertanyaan dapat saya jawab dengan baik. tibalah pada pertanyaan dasar mengenai tipe-tipe jaringan. Saya kemudian menjawab LAN, MAN… “Hlo, masak tipe-tipe jaringan seperti itu mas?” potong beliau. Eits, saya baru ingat, jawaban saya itu seharusnya masuk pada kategori cakupan geografis sebuah jaringan. Pak Fachrul kemudian memberikan petunjuk dengan menyodorkan gambar skema jaringan yang telah saya kerjakan.

“Lihat pekerjaan kamu ini mas, nah, pada skema yang kamu kerjakan ini, ada berapa tipe jaringan?” Pak Fachrul mengulangi pertanyaanya. Astaghfirullah, saya baru ingat. Kabel dan nirkabel-lah jawabannya.

Masih ada beberapa pertanyaan lagi yang harus saya jawab dengan tepat. Akan tetapi saya kembali bleset pada pertanyaan “Sebutkan langkah-langkah instalasi kabel jaringan secara horizontal!”. Sebagai orang yang memfokuskan riset dengan virtualisasi, saya juga agak bingung mau menjawabnya dari mana.

Tiba-tiba saya teringat dengan kondisi di labolatorium pemrograman dan basis data di kampus tempat saya belajar. Saya menjawabnnya sesuai dengan apa yang pernah saya lihat secara langsung di laboratorium. Plek, gak ada yang saya kurangi, hanya penambahan dan improvisasi.

Terakhir, beliau melihat projek yang sudah saya kerjakan dan menyuruh saya untuk menguji koneksi antar perangkat. Semua harus terhubung, minimal dapat melakukan ping antar perangkat, baik yang menggunakan kabel ataupun yang nirkabel, kedua-duanya harus saling terhubung dengan baik.

Meskipun semuanya baik, tapi saya masih memiliki satu masalah pada soal esai. Bagian instalasi kabel jaringan secara horizontal. Masih kurang lengkap. Pak Fachrul memberikan saya waktu lima menit untuk memperbaikinya. Oret-oret sebentar dan beres. Saya dipersilahkan keluar dari ruangan. Alhamdulillah, malam ini bisa tidur dengan tenang.

Hiasan meja resto Hotel Ayola Mojokerto

Waktu ISHOMA telah tiba, para assessor dan peserta acara beristiharat untuk melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Sesampainya dari ibadah, kami menikmati santap siang. Setelah selesai, saya langsung kembali ke area ballroom untuk berbincang-bincang dengan teman-teman.

Ditengah jalan menuju ballroom saya diberhentikan oleh Pak Kris, salah satu tim dari BPSDMP Kominfo Surabaya, yang bertanggung jawab saat penutupan acara. Saya diajak diskusi mengenai acara penutupan esok hari.

Hasil diskusi kami adalah Pak Kris menginginkan adalah satu acara khusus yang bersifat dari peserta untuk peserta. Intinya kami menyediakan hiburan untuk lebih meraketkan teman-teman. Baik berupa games lengkap dengan punisment-nya atau yang lainnya. Jika saya harus melaksanakan ini sendiri, tentu saya tidak akan mampu, untuk itu saya perlu beberapa orang untuk dijadikan panitia. Panitia dadakan.

Pertanyaannya adalah bagaimana saya mengumpulkan anak segitu banyaknya? Koar-koar digroup juga gak mungkin, karena saya harus bikin acara ini sebagai surprises.

Tanpa berfikir panjang, saya langsung kembali menuju resto hotel, saya clingukan mencari teman-teman yang bergerombol. Dari kejauhan tampak lima hingga enam peserta yang sedang berbincang-bincang santai.

Saya menghampiri mereka dan segera mengutarakan keinginan dari Pak Kris tersebut. Mereka semua menyetujuinya. Tapi mereka rata-rata cowok, kita butuh beberapa cewek lagi untuk memperkuat kepanitian “serba dadakan” ini.

Tak jauh dari tempat diskusi kami, saya melihat ada empat orang cewek dan saya meminta mereka untuk bergabung dengan kami. Tak Berselang lama, Bagus juga datang menghampiri, saya langsung mengajaknya bergabung.

Saya membuka jalannya rapat dengan mengutarakan keinginan Pak Kris. Maksimal waktu yang diberikan oleh Pak Kris hanya selama 30 menit. Mereka menyetujuinya, namun sebelum itu, harus ada yang bertanggung jawab sebagai pemandu acara. Saya membuka tawaran siapa saja yang ingin menjadi mc. Saya butuh empat orang yang terdiri dari dua cowok dan dua cewek. Mengingat banyaknya peserta sertifikasi.

Melalui jalur penawaran sepertinya tidak ada angkat bicara, sistem todong-menodong akhirnya saya pilih. Akhirnya terpilihlah empat orang pemandu acara, mereka adalah Fenty, Bagus, Vibry dan Mr. Gupuh alias Azami.

Diskusi selanjutnya saya membuka masukan ide acara, yang saya inginkan saat itu games lengkap dengan punisment-nya. Banyak sekali masukan-masukan yang berikan oleh teman-teman.

Didapatkanlah satu jenis games yang kami kasih nama sesuai dengan lagu iringannya, Do Mikado. Sebuah permainan sederhana yang dapat dijalankan minimal sepuluh orang biar terlihat keseruannya.

Cara memaikannya dengan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri teman sebelahnya, begitu sebaliknya, tangan kiri berada dibawah tangan kanan teman sebelahnya, kemudian mulainya permainan ditentukan oleh iringan ‘do mikado’ sembari menepukkan tangan kanan ke tangan kanan teman sebelahnya. Gerakannya mengikuti alunan ‘do mikado’ yang dinyanyikan oleh pembawa acara.

Adapun punisment-nya adalah berupa kata-kata, peserta yang terkena punisment dapat memilih apakah ingin membuat pantun, puisi atau bernyanyi dari kata-kata tersebut.

Kesepakatan sudah kami buat, saya menutup rapat dadakan ini dengan mengucapkan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya kepada teman2 yang sudah memberikan kontribusinya. Saya kembali kembali ke area dekat ballroom untuk berbaur dengan teman-teman sekaligus ngopi, mumpung masih ada.

Acara penilaian oleh assessor masih berlangsung hingga menjelang sore hari. Setelah semua selesai, kami di perkenankan untuk masuk kembali. Pak Aryo mengucapkan selamat kepada kami semua atas kerja keras selama kegiatan sertifikasi berlangsung. Beliau juga memberikan instruksi kepada teman-teman yang meminjam laptop dari LSP TIK Indonesia untuk segera mengembalikannya.

Terakhir, Pak Aryo berpesan kepada kami untuk menunggu hasilnya yang akan diumumkan esok harinya. “Apapun hasilnya, ini adalah kerja keras kalian semua” ujar beliau.

Kegiatan hari ini ditutup dan mempersilahkan kami untuk beristirahat. Karena waktu masih menunjukkan sekitar pukul 15:00 WIB, kami masih enjoy menikmati coffee break yang tidak ada habisnya.

Saya masih berfikiran mengenai acara yang akan kami jalankan untuk esok hari. Kopi sudah semakin dingin. Saat sedang memikirkan hal tersebut Pak Kris mengirimi saya pesan singkat berisi pertanyaan mengenai progres rapat dadakan yang saya dan teman-teman tadi siang. “Alhamdulillah Pak, nanti malam kami akan rapat lagi. Saya ingin anda hadir juga untuk memberikan masukan” balas saya, Pak Kris pun menyetujuinya.

Malam harinya, setelah menikmati kehangatan santap malam, kami, ranger panitia dadakan beserta Pak Kris, berbondong-bondong menuju ke ballroom. Setelah semua teman-teman berkumpul, Pak Kris mempersilahkan saya untuk memulai jalannya rapat terakhir ini.

Suasana rapat oleh Panitia Dadakan

Memulai rapat terakhir ini saya membacakan hasil rapat siang tadi. Menggunakan rumus panjang dikali lebar dikali tinggi. Selanjutnya saya mempersilahkan Pak Kris untuk memberikan masukannya. Struktur kepanitiaan, yah, selain MC yang sudah terbentuk, kita membutuhkan divisi yang lain untuk mendukung sistem kepanitiaan ini.

Hasil diskusi akhirnya menyepakati terbentuknya beberapa divisi, yaitu Operasional, Acara dan Dokumentasi.

Divisi Operasional merupakan divisi yang paling banyak orangnya. Ada Yokoo, Lintang, Kresna, Hilmi, Andhi, Della, Lathifah, Abi dan Rama. Divisi ini terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama bertugas mengatur dan menyediakan beberapa backsong yang akan kita gunakan untuk hukuman, kelompok kedua langsung berbaur dengan peserta sebagai kompor yang membakar keseruan acara.

Divisi Acara merupakan divisi yang sejak awal sudah terbentuk, berisi teman-teman MC dengan tambahan seorang time keeper, Diki.

Divisi Dokumentasi merupakan divisi yang bertugas mengabadikan momen, baik itu berupa foto maupun video. Divisi ini berisi empat orang, mereka adalah Aji, Agung, Mega dan Imaroh. Ini adalah divisi yang tidak ikut bersenang-senang, tapi jika teman-teman bahagia dan senang dengan acaranya, saya jamin mereka juga ikut senang.

Penentuan divisi juga tidak akan berjalan dengan baik jika kita tidak melakukan percobaan terlebih dahulu, Aji menginstruksikan untuk segera mencoba permainan yang memang sejak awal adalah idenya dia. Kami memsiahkan diri dari Divisi Acara, karena mereka sibuk dengan berbagai persiapannya.

Ditengah-tengah rapat, Pak Kris minta ijin untuk meninggalkan ruangan, beliau juga akan meeting dengan tim panitia dari BPSDMP Kominfo Surabaya.

Kami menemukan beberapa kegalatan, terutama pada saat punisment. Blank. Tentu saja ini membutuhkan kecekatan dalam berfikir, apalagi pada waktu yang sangat singkat. 30 menit setelah waktu ISHOMA. Beruntung, teman-teman Divisi Acara memiliki plan A, B, C, dan D. Kebutuhan backsong teman-teman Divisi Operasional sudah akan menyiapkannya nanti saat sampai di kamar.

Membakar semangat adalah prioritas kami juga, untuk itu kami memerlukan jargon. Mengalir beberapa ide dari teman-teman. Kresna mengusulkan jargonnya adalah “Angkatan kerja muda. Sehat dan berprestasi” mirip-mirip iklan produk vitamin jadinya. Kami masih merangkai kata-kata. Tiba-tiba Aji nyeletuk “Gimana kalau jargonnya Salam Kompeten dan dijawab dengan beberapa kata”, kami menyetujuinya hingga terbentuklah jargon kami yaitu Salam Kompeten!. Kompeten!. Bisa Kompeten!. Pasti Kompeten!. Yes!, yes!, yes!.

Kami mengakhiri semua kegiatan rapat ini tepat pukul 21:00 WIB. Kembali ke kamar untuk beristirahat dan mengatur strategi untuk esok hari.

Hari Keempat Sertifikasi Kompetensi

Mam, ndang check out, Mam. Sepagi itu suara si Bagus sudah menggema nyaring. Saya kaget dan bergegas bangun. Memang pagi itu kita harus melakukan check out sebelum jam 10:00 WIB. Shit!, kok sudah terang benderang begini. Ku ambil dan segera menghidupkan handphone yang berada di meja sejak malam. Wtf!, sudah jam 8:10 WIB. Seolah tidak menghiraukan proses rebuilding, saya segera masuk ke kamar mandi.

Proses rebuilding saat bangun tidur memang perlu dilakukan agar tubuh kita rileks untuk melakukan aktifitas, konsekuensi jika kita tidak menghiraukannya kepala akan terasa cemmut-cemmut. Setidaknya itu yang saya rasakan pagi ini.

Selesai mandi, saya mengenakan kembali pakaian hitam-putih yang sejak awal acara sudah saya gunakan. Bau, tenang saja, ada parfum.

Saya, Bagus dan Yokoo bergegas ke resto hotel untuk sarapan. Hari ini saya merasa agak oleng, mungkin perlu asupan dalam jumlah besar. Segera saja kusikat beberapa menu yang disediakan ditambah empat gelas air mineral. Alhamdulillah, badan kembali segar seperti sedia kala.

Pagi itu peserta sertifikasi akan mendapatkan kuliah tamu (begitu sebutannya kalau di kampus-kampus) dari Kominfo Provinsi Jawa Timur dengan topik Internet Sehat dan dari Diskominfo Kabupaten Mojokerto tentang Kesiapan Angkatan Kerja Muda. Dimoderatori langsung oleh Pak Kris. Juga hadir Bu Eka Handayani, S.E., M.M. selaku kepala BPSDMP Kominfo Surabaya.

Topik “Internet Sehat” dibawakan oleh Eko Setiawan, S.I.Kom., M.Med.Kom selaku Kepala Seksi Sumber Daya Komunikasi Publik, Kominfo Jawa Timur.

Internet sehat adalah bagaimana kita mengendalikan diri kita sendiri saat mengakses konten-konten yang tersedia di Internet. Pemerintah melalui Kemkominfo telah menerbitkan beberapa kebijakan agar masyarakat kita dapat dengan bijak menggunakan teknologi tersebut, salah satu kebijakan tersebut adalah UU ITE.

Meskipun UU ITE telah resmi dijalankan pada 2008 dan mendapatkan pembaruan pada tahun 2016, masih saja banyak pelanggaran yang dilakukan masyarakat kita, baik itu melalui poster (meme), pemalsuan berita (hoaks), berupa teks, gambar, audio maupun video. Pilihan hukuman berupa mendekam dibalik jeruji besi atau denda kurang lebih mencapai satu miliar. Baik yang memproduksi ataupun yang menyebarkan (kembali).

Pak Eko punya beberapa tips dan trik agar kita terhindar dari berida bodong alias hoaks. saya merangkumnya menjadi 3K, yaitu Kenali, Ketahui dan Kendalikan.

Kenali ciri-ciri pesan hoaks atau kabar bodong yang beredar. Biasanya berita-berita ini menyebar dari grup-grup di aplikasi perpesanan, pesannya ditulis dengan huruf kapital, berisi pesan mengadu domba dan terkadang memakai isu-isu yang berbau sara. Kita harus selektif dengan pesan-pesan semacam ini. Sebagai masyarakat yang smart, tentu kita tahu bagaimana menulis pesan yang baik, bukan?

Ketahui sumber atau asal usul berita tersebut, jika berita tersebut berasal dari media-media yang sudah terverifikasi di Dewan Pers RI, kita dapat menggunakannya sebagai rujukan atau refrensi, namun jika sumber berita tersebut tidak valid atau tidak terverifikasi oleh Dewan Pers, maka anda harus berhati-hati. Anda dapat melakukan pengecekan status portal berita di www.dewanpers.or.id/data/perusahaanpers.

Kendalikan diri anda untuk tidak menyebarkannya terlebih dahulu sebelum anda tahu betul asal-usul berita tersebut. Periksalah dengan teliti, bila perlu, anda dapat melaporkannya ke aduankonten.id yang telah dibangun oleh Kemkominfo RI.

Selain yang saya sebutkan tadi, ada beberapa situs yang memang benar-benar digunakan untuk keperluan pengklarifikasian terhadap berita-berita yang beredar, diantaranya adalah turnbackhoax.id dan stophoax.id. Anda juga dapat melakukan pengecekan secara langsung melalui mesin telusur dengan menambahkan kata ‘hoax’ atau ‘hoaks’ diakhir kata kunci anda.

Nah, bagaimana mengetahui keaslian berita yang berbentuk seperti poster atau meme? Untuk mengetahui keaslian gambar yang telah diedit sedemikian rupa dapat memanfaatkan alat dari Google, yaitu Google Gambar.

Pak Eko mengakhiri kuliah tamunya dengan bermain games tebak-tebakan. Platform yang digunakan adalah kahoot.it.

Ada sekitar lima belas soal tebak-tebakan, untuk menjawabnya peserta hanya perlu masuk dengan kode yang telah dipersiapkan dan menjawabnya sesuai dengan pilihan jawaban di layar. Setiap kali menjawab pertanyaan, peserta akan mendapatkan poin, banyaknya poin ditentukan dengan ketepatan dan kecepatan dalam menjawab.

Selesai memainkan games Pak Eko kemudian mengumumkan pemenangnya lewat skor poin terbanyak dan akan mendapatkan hadiah dari beliau. Pak Eko menutup sesinya dengan ucapan salam.

Sesi kuliah tamu kedua diisi oleh perwakilan Diskominfo Kota Mojokerto, Pak Har, beliau akan memberikan wawasan mengenai mempersiapkan tenaga kerja muda pada bidang TIK.

Setelah Pak Har menyampaikan kuliahnya dan mengembalikan acara sepenuhnya kepada Pak Kris, terjadilah hal yang sama sekali tidak kami (panitia dadakan) duga. Yah, ternyata waktu yang diberikan oleh Pak Kris kepada kami harus maju lebih awal dari target waktu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Teman-teman panitia dadakan saling berpandangan satu sama lain. Wah yoopo iki? Kok dimajokno?. Memang beginilah jadi panitia, kami harus siap dengan segala kondisi yang ada.

Gak pakai lama, panitia langsung sigap dengan posisinya masing-masing, Divisi Operasional, Divisi Dokumentasi dan tentu saja Divisi Acara. Divisi Acara maju kedepan dan mulai membuka acaranya dengan perkenalan dan teriakan jargon yang telah disepakati.

“Salam kompeten!” teriak MC. “Kompeten, bisa kompeten, pasti kompeten, yes!, yes!, yes!” jawab audiens sembari bertepuk tangan.

Mula-mula Divisi Acara menginstruksikan teman-teman untuk keluar dari tempat duduk dan membentuk lingkaran. Kemudian mereka mencontohkan bagaimana cara bermainnya, hingga sampai kena punishment. Setelah peserta memahaminya, dengan instruksi MC, dimulailah permainan ‘domikado’ ini.

Putaran pertama, lagu agak lamban, dan hap, satu orang kena dan siap menerima punisment. Lagu kedua agak cepat, semakin cepat dan hap, satu orang lagi. Begitu terus hingga total lima orang (3 cowok dan 2 cewek) yang siap dengan segala punistment yang diberikan.

MC memilih orang pertama untuk menjalani punisment-nya, yaitu menceritakan perasaannya dari kata “terima kasih jarak”.

Kini tersisa empat orang, dua cowok dan dua cewek. Momen yang sangat tepat sekali. Punistment yang mereka terima ala-ala anak muda dalam merayu pasangannya alias ngegombal.

Belum cukup sampai disini, Saya-pun kena imbasnya juga, saat para MC mencari kandidat yang akan memimpin senam dangdut. Ada dua orang yang telah ditunjuk tapi tetap saja nama yang kecatut, ini nih resiko kalau jadi ketua. Merasa tidak cukup meriah karena yang memimpin goyang adalah saya, akhirnya Pak Kris berinisiatif untuk mengajak semua peserta maju kedepan, keatas podium, untuk turut memeriahkan Asian Games 2018 dengan cara kami.

Tentu anda tidak asing lagi bukan dengan the official song of Asian Games 2018 yang dilantunkan oleh Mbak Via Vallen? Yapp, Lagu yang berjudul “Meraih Bintang” dapat membuat seisi ballroom bergoyang.

Waktu ISHOMA telah tiba, MC menutup acaranya dan mengembalikan sepenuhnya ke Pak Kris. Tanpa basa-basi lagi, Pak Kris langsung mempersilhakan kami untuk istirahat, sholat bagi yang muslim dan menikmati santap siang.

Kami menikmati waktu ISHOMA dengan sebaik-baiknya, karena tepat pada jam 13:00 WIB nanti kami harus kembali ke ballroom untuk mendengarkan siraman rohani dari KH. Nur Hadi atau yang biasa dikenal dengan julukan Mbah Bolong.

Seklias tentang Mbah Bolong, sapaan akrab dari KH. Nur Hadi. Beliau pengasuh pondok pesantren “Falahul Mukhibbin” yang terletak bersebelahan dengan rumah beliau di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang.

Waktu ISHOMA berakhir, teman-teman juga telah menempati tempat duduknya masing-masing. Bersiap menyambut siraman rohani dari Pak Kiyai yang selalu memakai peci putih saat berdakwah.

Suasana siraman rohani sesekali diiringi dengan candaan. Peserta tampak mendengarkan dengan antusias.

Siang semakin mendekati sore hari, Mbah Bolong mengakhiri tausiyahnya dan menutupnya dengan bacaan solawat dan do’a. Selepas mengucapkan salam, Mbah Bolong dengan diantar Bu Eka dan Pak Har meninggalkan ballroom. Saya menyempatkan diri untuk bersalaman dengan beliau dengan tujuan hormat kepada ahlinya ilmu.

Pak Kris yang sejak tadi masih berada di bangku depan, menginformasikan rangkaian acara terakhir kepada seluruh peserta, yakni penutupan yang akan disampaikan oleh Bu Eka selaku Kepala BPSDMP Kominfo Surabaya.

Salam Kompeten! kata yang diucapkan Bu Eka pada sambutan penutup acara. Audiens-pun menjawabnya dengan lantang “Salam!”. Begitu juga saat mengakhiri sambutan di penghujung acara. Beliau memberikan salam kompeten sebanyak tiga kali untuk membakar semangat teman-teman. Salam Kompeten!. Salam Kompeten!. Salam Kompeten.

Penyerahan sertifikat secara simbolis oleh Kepala BPSDMP Kominfo Surabaya, Bu Eka.

Pak Kris selaku pembawa acara kemudian menunjuk dua orang perwkilan untuk menerima sertifikat secara simbolis dari Bu Eka. Terpilihlah Mbak Uci dan Mas Wakhid. Setelah mereka berdua menerima sertifikat secara simbolis, Pak Kris menutup acara dan diikuti oleh penyerahan sertifikat untuk peserta yang lain. Bergantian, sesuai nama-nama yang disebutkan oleh panitia.

Foto bersama
Inilah wajah-wajah panitia dadakan, senyum cekrek

Semua peserta telah mendapatkan sertifikatnya masing-masing, kini acara selanjutnya adalah foto bersama dengan membawa sertifikat masing-masing. Semua panitia dari BPSDMP Kominfo Surabaya dan LSP TIK Indonesia juga turut ikut dalam pengambilan momen ini.

Suasana perpisahan

Kami saling bersalaman dan mendoakan kesuksesan masing-masing. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, begitulah kira-kiranya, namun perpisahan bisa juga menjadi momen untuk kita bertemu kembali, tergantung bagaimana Tuhan berkehendak dengan cara-Nya Yang Maha Indah.

Suasana sore hari Hotel Ayola Mojokerto

Seluk-beluk Acara Sertifikasi Kompetensi TIK Berbasis SKKNI di Mojokerto

Acara yang diselenggarakan mulai dari hari Rabu sampai dengan Sabtu (29-1/08) ini mengusung tema “Sertifikasi Kompetensi Bidang TIK Berbasis SKKNI Bagi Angkatan Kerja Muda“. Dari tema tersebut tentu kita tahu ada beberapa stakeholder yang berkerja sama dalam menyukseskan acara ini. Berbekal beberapa informasi yang saya terima, saya akan mengulas siapa saja yang ada dibalik acara ini.

SKKNI merupakan akronim dari Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian, serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.[1]

Acara ini diprakarsai oleh beberapa stakeholder, yaitu BPSDMP Kominfo (Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika) Surabaya dan LSP TIK Indonesia. Nah, sebagai peserta sertifikasi, tidak ada salahnya kan kalau kita mengenal kedua lembaga tersebut.

BPSDMP Kominfo Surabaya (menurut saya pribadi) merupakan Unit Pelasana Teknis atau UPT dari Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang memiliki fokus dalam pengembangan SDM, penelitian dan lain-lain dalam bidang informatika.

Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Informasi dan Komunikasi (LSP TIK) Indonesia merupakan lembaga yang telah memiliki lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sejak tahun 2007 (BNSP-LSP-018-ID) untuk melakukan proses pembuktian bahwa seorang tenaga kerja yang profesional benar-benar telah kompeten pada bidangnya. Sehingga tenaga profesional tersebut mendapatkan pengakuan atas Kompetensi Profesi yang dimilikinya baik secara Nasional maupun Internasional. Pembuktian kompetensi yang dilakukan oleh LSP TIK Indonesia berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang merupakan rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari penjelasan diatas dapat kita fahami bahwa BPSDMP Kominfo Surabaya selaku UPT yang bertanggung jawab mengenai SDM dalam bidang TIK yang telah menggandeng lembaga seperti LSP TIK untuk mengadakan kegiatan sertifikasi profesi ini, LSP TIK Indonesia melakukan proses pembuktian bahwa seorang tenaga kerja yang profesional benar-benar telah kompeten pada bidangnya melalui sertifikasi kompetensi.

Unboxing Buah Tangan dari Kegiatan Sertifikasi Kompetensi di Mojokerto

Buah tangan yang saya maksudkan disini adalah sebuah tas, sertifikat keikut sertaan peserta, dan lain-lain. Penasaran dengan buah tangannya?, berikut ulasannya.

Buah tangan dari acara sertifikasi profesi

Buah tangan yang didapatkan peserta dari kegiatan sertifikasi kompetensi ini yang pertama adalah tas ‘2in1’. Selain dapat berfungsi seperti ransel (tas punggung), tas tersebut juga bisa berfungsi sebagai sling bag atau tas selempang.

Tas trsebut berisi satu buku catatan, satu bulpoin dan (inilah yang membuat anak teknik kegirangan) satu flashdrive 2.0 bermerk SanDisk dengan kapasitas penyimpanan 8 GB.

Selain tas, peserta juga akan mendapatkan dua sertifikat sekaligus, sertifikat keikutsertaan dan sertifikat kompetensi, jika dinyatakan lulus oleh assessor. Masing-masing sertifikat berbeda penerbitnya. Sertifikat keikutsertaan langsung diterbitkan oleh BPSDMP Kominfo Surabaya, sedangkan sertifikat kompetensi diterbitkan oleh pihak LSP TIK Indonesia yang telah mengantongi lisensi dari BNSP untuk menyelenggarakan Sertifikasi Profesi. Konon, sertifikat dari LSP TIK Indonesia ini diakui secara nasional karena masuk pada kategori SP3.

Tidak hanya itu saja, masing-masing peserta juga menerima ‘pengganti’ biaya transport. Panita berharap, uang ini dapat dimanfaatkan dengan baik.

Pesan, Kesan dan Ucapan Terima Kasih

Pada akhir postingan ini, atas nama pribadi, saya ingin menyampaikan beberapa pesan dan kesan selama mengikuti kegiatan Sertifikasi Kompetensi Bidang TIK Berbasis SKKNI Bagi Angkatan Kerja Muda.

Saya sangat berharap kepada teman-teman seperjuangan, yang kemudian bisa saya sebut sebagai Alumni Sertifikasi Kompetensi Bidang TIK Mojokerto (29/08 – 1/09), untuk selalu menjaga komunikasinya, baik lewat grup yang sebelumnya telah dibuat, maupun bertemu secara langsung.

Mari kita tunjukkan bersama bahwa alumni ini merupakan alumni yang paling solid dan professional dari pada alumni-alumni yang lain. Dari sekian banyak cita-cita yang sudah kita ukir, tujuan akhir kita hanya satu, yakni NKRI. Tanah tempat kita dilahirkan. Tanah tempat kita dibesarkan. Tanah tempat kita berkarya. Tanah tempat dimana kita disemayamkan.

Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada yang pertama Tuhan Yang Maha Esa, kedua kepada BPSDMP Kominfo Surabaya yang telah memfasilitasi saya dan teman-teman selama mengikuti kegiatan sertifikasi ini, ketiga kepada pihak LSP TIK Indonesia beserta para assessor yang dengan sabar dan bijaksana mendampingi kami selama kegiatan sertifikasi ini, keempat kepada seluruh teman-teman seperjuangan atas terbentuknya berbagai momen selama empat hari di Kota Mojokerto. Terakhir, terima kasih juga kepada pihak Hotel Ayola Sunrise Mojokerto yang telah memberikan pelayanannya dengan ramah, baik dan santun, btw Sop Buntutnya enak banget.


Demikian postingan ini saya tulis. Butuh waktu sekita empat hari pula untuk generate ingatan menjadi tulisan-tulisan dengan total 15 revisi. Saya berharap, tulisan ini sangat bermanfaat tidak hanya untuk saya, melainkan untuk seiapa saja yang membacanya.

Salam Kompeten!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.