Kalau tidak salah, ini kunjungan kali ke-3 saya. Kunjungan yang pertama saat pernikahannya Mas. Kunjungan kedua saat libur lebaran, bahkan saya sempat bermalam selama tiga hari di sana. Kunjungan ketiga saat rangkaian acara Halalbihalal Bani Madrim ini.

Acara halalbihalal ini berlangsung pada Ahad, 12 Syawal 1440 H atau Minggu, 16 Juni 2019 M. Bertempat di rumah Mas Heru di desa Darungan, Kec. Selorejo, Kab. Blitar.

Sebuah desa dengan suhu udara yang sejuk dan cenderung dingin kalau malam hari, penduduknya yang sangat ramah dan sajian-sajian lezat ala pedesaan yang bikin nagih.

Nasi empok (jagung), nasi tiwul, nasi putih, ditambah aneka oseng-oseng, seperti genjer, lompong, blinjo, pare, terong bundar, daun pepaya muda, sayur lodeh nangka muda dan ayam ingkung adalah beberapa sajian yang sudah saya cicipi.

Hanya satu hal yang disayangkan. Koneksi internet dari provider ‘teman pintar’ tidak bisa digunakan dengan lancar. Geser dikit hilang. Padahal pingin banget buat sekedar memperbarui stories disosmed.

Keberangkatan dari St. Gedangan Menuju St. Kesamben

Rasanya sudah gak sabar buat memacu motor untuk segera berangkat ke St. Gedangan. Jarum jam terasa begitu lamban bergerak menunjuk ke angka 7:00 WIB. Atau saya-nya aja yang udah gak sabar buat nungguin si Penataran mengantarkan saya dan keluarga menuju ke St. Kesamben.

Si doi alias KA Penataran yang saya tunggu-pun tiba, tepat sesuai jadwal keberangkatannya. Sekitar jam 8:06 WIB.

Hitung-hitung buat ngehafal pemberhentian antar stasiun, dari St. Gedangan, KA Penataran tancap gas menuju St. Sidoarjo – St. Tangulangin – St. Porong – St. Bangil – St. Lawang – St. Singosari – St. Blimbing – St. Malang – St. Malang Kota – St. Kepanjen – St. Ngebruk – St. Sumberpucung – masuk trowongan Karangkates dua kali – St. Pogajih – sampailah di St. Kesamben.

Stasiun Kesamben
KA Penataran sampai di St. Kesamben

Untuk sampai di rumah Mas Heru ada dua opsi, mau naik ojek langsung (Rp25.000,00) atau naik ojek dulu (lupa harganya) menuju ke Terminal Kesamben buat naik bus jurusan Arjosari (Rp.4.000,00).

Cukup memakan waktu sekitar 10 menit perjalanan dari Terminal Kesamben, sampailah kita di tempat yang dituju.

Main sama anak ayam

Tempat Favorit

Mumpung lagi di desa seperti ini, kurang seru kalau belum menjelajahi tempat-tempat wisata lokal. Sawah, sungai dan bukit-bukit yang ada di sekitar rumah Mas Heru. Tapi, kali ini saya lebih memilih ke sawah dan sungai yang dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Jika dilihat dari peta di atas, hanya ada satu akses menuju ke sungai yang saya maksud. Hal itu dikarenakan tempat nya sangat terpencil dan jauh dari keramaian. Belum lagi harus melewati ladang tebu dan sawah.

Begitu sampai di sungai, semua rasa capek hilang. Yang ada hanya rasa sejuk dan segar. Suara gemericik aliran airnya dapat menjadikan fikiran ini segar kembali.

Serunya Saat Acara Halalbihalal Dimulai

Seperti pada umumnya acara halalbihalal sih, saling bermaaf-an, tukar pendapat, berdo’a bersama, ngobrol ngalor-ngidul dan ramah tamah. Sayang sih kalau cuman diadain setahun sekali. Tapi gak papa-lah, mungkin, justru itu yang membuat acara ini semakin seru.

Acara yang dikonsep dadakan memang tidak terlalu bertele-tele. Toh, perjalanan yang cukup jauh tentu menguras mood. Ya kali kalau ada yang mau nge-standup ala stand up comedy.

Bukan orang jawa namanya kalau setiap acara, khususnya halalbihalal seperti ini tidak ada makanannya. Segeralah, setelah acara inti, tuan rumah mempersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah sedari pagi telah disiapkan.

Menu makanannya sudah saya jelaskan di atas ya.

Mbolang Naik KA Penataran dari St. Kesamben ke St. Gedangan

Eits, tunggu sebentar, jangan buru-buru beranggapan saya penumpang gelap KA Penataran hanya karena sub judulnya ya. Kata mbolang sengaja saya pilih karena kebetulan tidak kebagian tempat duduk. Ya mau gimana lagi. Asal sampai dengan selamat saya sudah sangat bersyukur.

Kereta api Penataran yang akan membawa saya dan keluarga (ada ayah, ibu dan adek) dijadwalkan berangkat dari St. Kesamben pada jam 18:39 WIB. Masih ada waktu beberapa jam lagi buat ngebantu beresin rumah Mas Heru dan mempersiapkan diri.

Tepat pukul 16:30 WIB, kami berpamitan. Kami sengaja berangkat lebih awal ke St. Kesamben. Mumpung langit masih cerah, jadi bisa sedikit lebih menikmati pemandangan menuju St. Kesamben.Untuk berangkat menuju St. Kesamben, kami menggunakan formasi 2-3-2.

Dan benar saja. Pemandangannya epic banget. Pesawahan dengan sistem terasering, perbukitan hijau, jalanan naik-turun, sungai-sungai. Ingin rasanya berhenti sebentar buat swafoto atau sekedar buat lebih merasakan sejuknya udara sore itu.

Setibanya kami di St. Kesamben. Kami berpamitan dengan Mas Heru, Mbak Nunik dan Pakde. Merekalah yang mengantarkan kami sampai ke St. Kesamben.

Masih sekitar 40 menit-an lagi sampai KA Penataran sampai di stasiun pemberangkatan Kesamben. Sembari menunggu, kami menyantap bontotan yang sengaja dibawakan tuan rumah. Biar gak ribet aja saat di kereta.

Kereta api Penataran yang ditunggu telah tiba tepat pada waktunya. Saya naik dan mencari tempat longgar. Beruntung, ada tempat kosong di antara pintu masuk gerbong.

KA Penataran-pun tak mau berlama-lama dipemberhentiannya. Sang masinis membunyikan klakson sebagai tanda akan segera meninggalkan stasiun.

Sebagai penumpang tanpa tempat duduk, ternyata ada sensasi tersendiri loh. Kalau Anda pernah menaiki lori tebu pada jaman dulu, begitulah kira-kira rasanya. Enco tenan!

Penutup

Demikian rangkaian kegiatan halalbihalal di rumah Mas Heru di Kec. Selorejo, Kab. Blitar, Jawa Timur yang dapat saya tulis di sini. Akhir kata, saya mengucapkan beribu-ribu rasa terima kasih kepada Pakde dan Bude, Mas Heru, Mbak Nunik, Mbak Lina, dan segenap keluarga besar Bani Madrim yang hadir.

Semoga acara seperti ini terus dilaksanakan. Istiqomah. Meski cuman setahun sekali. Dengan begini kita tidak akan lupa dengan sejarah yang sudah terbentuk nenek moyang. Siapa kita dan dari mana asal kita. Inilah Bani Madrim seutuhnya.

Terima kasih dan sampai jumpa di acara halalbihalal Bani Madrim tahun depan di Surabaya.