Skripsi adalah proses penelitian yang menjadi penentu kelulusan seseorang dari bangku kuliah. Memang agak lucu sih menurut saya, kuliah selama 4 tahun (8 semester) penentu kelulusannya hanya satu, yaitu skripsi.

Ujian terbesar seorang mahasiswa setara satu bukan pada saat UTS atau UAS, bukan juga pada saat demo projek tugas mingguan atau projek akhir semester (final projek) akan tetapi skripsi.

Skripsi adalah segalanya. Segala yang menentukan kelulusan anda dari proses studi yang panjang. Tentu saja faktor kelulusan bukan hanya dilihat dari itu (skripsi) saja, ada Praktek Kerja Lapangan, minimal SKS yang ditempuh dan juga IPK.

Apakah skripsi begitu menakutkannya buat mahasiswa yang mau masuk semester akhir? Tidak juga menurut saya. Asal telaten dan sabar. Alon-alon asal kelakon. Begitu kata orang jawa.

Tulisan ini bukanlah isi curahan hati saya, bukan itu. Saya hanya ingin berbagi mengenai momentum ujian skripsi, antara ekspetasi dan realitanya.

Sidang skripsi jurusan Teknik Informatika periode bulan Januari 2019 dilaksanakan pada hari Jum’at, 4 Januari 2019, pukul 09:00 WIB sampai selesai. Kecuali jika ada hal-hal lain yang menghalanginya.

Berbagai kebutuhan sidang sudah saya persiapkan. Mulai dari berkas presentasi, materi-materi pendukung, dan beberapa strategi jitu untuk menghadapi pertanyaan penguji karena saya yakin sebagian penguji berasal dari bidang minat lain.

Seberapapun saya mempersiapkannya, masih saja belepotan ketika presentasi. Entah kenapa, tidak seperti saat saya mengikuti sidang proposal sebelumnya. Apalagi ketika seorang penguji yang ahli dibidangnya harus meninggalkan ruangan untuk istirahat. Tinggallah dua orang penguji yang ahli dibidang lain, komputasi cerdas. Inilah ujian terbesar ketika sidang berlangsung.

Pelan-pelan saya menjelaskan metodologi penelitian dengan harapan bahwa penguji akan kepo dengan rancangan penelitian saya. Tapi saya salah. Saya hanya terlalu fokus pada bagaimana proses implementasinya dan melupakan teori dasarnya.

Ini sangat penting. Karya ilmiyah harus didasari dengan teori yang masuk akal. Tidak tiba-tiba berhasil tanpa adanya proses ilmiyah. Inilah letak kesalahan fatal saya. Terutama ketika salah satu penguji menanyakan terkait hasil pengujian yang saya lakukan. Lebih tepatnya rumus untuk mendapatkan hasil pengujiannya.

Beruntung, setelah mencoba menjelaskan bahwa penelitan saya hanya menitik beratkan pada proses perancangan dan implementasinya, sedangkan proses pengujian hanya sebagai pelengkap saja, para penguji akhirnya maklum.

Kurang lebih 30 menit waktu yang saya butuhkan berada diruang sidang. Saya keluar ruangan dengan menenteng beberapa revisi laporan. Tidak banyak sih, hanya beberapa bagian saja yang perlu penambahan penjelasan.

Beban berat selama ini hancur lebur dengan waktu hanya 30 menit. Tidak menyangka akhirnya dapat melewatinya dengan baik.

Tingkat kesuksesan sidang skripsi adalah dengan menguasai teori dasarnya, karena belum tentu penguji kita mengetahui teknologi yang kita gunakan dalam penelitian.

Akhir kata, skripsi bukanlah momok yang ditakuti melainkan proses yang harus ditempuh dengan siap, skripsi merupakan proses bagaimana cara kita mendapatkan gelar sesuai dengan jurusan masing-masing.

Semangat!

%d blogger menyukai ini: