Penerjemahan LibreOffice Pasuruan Sukses Diadakan di STMIK Yadika Bangil

Penerjemahan LibreOffice Pasuruan merupakan acara ke-3 dari rangkaian kegiatan penerjemahan LibreOffice yang diadakan selama bulan Januari 2019 setelah Kota Malang dan Kota Surabaya. Kota Surakarta akan menyusul sebagai kota ke-4, akhir pekan ini.

Saya sendiri awalnya sudah merencanakan untuk mengikuti acara tersebut mulai hari pertama dan bermalam di rumah Imanuel, namun karena kurang perhitungan, akhirnya hari pertama saya hanya ikut penerjemahan secara remote. Saya berkomitmen untuk ikut pada hari ke-2 penerjemahan.

Kab. Pasuruan masih begitu asing bagi saya, apalagi Kota Pasuruan-nya. Berbekal aplikasi peta digital, saya memulai perjalanan menuju Kab. Pasuruan dengan memilih jalur alternatif via Ngaban – Putat – Porong melewati jalan tol yang penuh kenangan akibat musibah beberapa tahun silam dan masih membekas sampai kini.

Saya masih harus berhenti beberapa kali untuk memastikan jalur yang saya lewati benar. Butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai ke STMIK Yadika Bangil. Akhirnya dipemberhentian terakhir saya harus putar balik karena kelewatan. Sampailah saya di STMIK Yadika Bangil dengan waktu yang hampir bersamaan dengan Imanuel.

Kami bergegas menuju ke ruangan tempat diselenggarakannya acara Penerjemahan LibreOffice Pasuruan. Sesampainya di ruangan yang dimaksudkan, panitia sudah bersiap menyambut kami. Setelah absensi, saya bergegas memasuki ruangan dan memilih tempat duduk disebelah kanan. Tampak camilan sudah menghiasi meja dengan cantik.

Penerjemahan LibreOffice Pasuruan hari ke-2 peserta mendapatkan stiker

Saya memulai kebiasaan yang tidak bisa diabaikan, tidak seberapa lama datanglah Chila, pengurus Komunitas Linux UPN “Veteran” Jawa Timur (KoLU). Saya lega, akhirnya ada satu orang dari KoLU yang ikut berkontribusi ke upstream.

Acara dimulai pukul 09:00 WIB lebih dengan membagi fokus penerjemahan untuk menyelesaikan LibreOffice 6.2 Help bagian shared/{guide.po, 01.po, 02.po}. Peserta penerjemahan yang dipandu Imanuel, Fadhil dan Dafid harus kejar target penerjemahan dengan menyelesaikan shared.

Waktu berputar begitu cepat. Dari kejauhan samar-samar suara adzan dhuhur telah dikumandangkan, menusul musholla yang ada dilingkungan STMIK Yadika Bangil.

Saya dan kontributorlain rehat sejenak. Sebagian ada yang bergegas turun dan menuju musholla, sebagian yang lain masih tetap tinggal di ruangan. Bersantai, merenggangkan otot-otot yang kaku.

Sesampainya dari musholla, kotak ‘styrofoam’ sudah terjejer di tempat masing-masing kontributor berikut air mineralnya. Wah, keren juga panitianya, sangat melayani. Tanpa banyak cincong lagi, segera saya santap.

Menu makan siang

Kotak ‘styrofoam’ makan siang saya berisi nasi putih, sepotong ayam panggang (bagian paha), sambal, tempe goreng dan lalapannya. Sempurna. Kalau boleh meminjam jargon Alm. Bondan Winarno saat mencicipi kuliner lezat, maknyuus! rasanya, apalagi sambalnya, jos tenan pokok e.

Waktu makan dan istirahat telah usai, Imanuel kembali mengambil komando dan memberikan semangan kepada kontributor-kontributor muda. Inilah waktu yang mendebarkan, karena waktu hanya tersisa sekitar tiga jam lagi.

Teman-teman kontributor berjuang keras menyelesaikan tiga bagian yang harus segera dituntaskan. Sesekali kami berdiskusi terkait padanan bahasa.

Panitia ternyata cukup peka dengan ketegangan ini. Mereka memutarkan lagu-lagu nostalgia tahun 90 hingga 2000-an sampai lagu paling hits masa kini. Mulai dari Menunggu yang dipopulerkan oleh Peterpan ft. Alm. Chrisye, Sephia yang dipopulerkan oleh Seila on 7, Solo yang dipopulerkan oleh Jennie hingga Dududu yang dipopulerkan oleh Blackping dan lain-lain.

Hari sudah semakin sore, hujan turun tanpa berjeda. Imanuel selaku mentor sudah mulai menghitung mundur. Lima… Empat… Saya masih menyelesaikan beberapa kata. Tiga… Dua… Klik enter. Satu. Semua kontributor menghentikan kegiatannya. Mentor kemudian menghitung hasil perolehan penerjemahan selama dua hari ini.

Total hasil penerjemahan selama dua hari di STMIK Yadika Bangil mencapai 70 ribu lebih kata yang berhasil diterjemahkan oleh kontributor Penerjemahan LibreOffice Pasuruan.

Mentor penerjemahan, Imanuel dkk turut memberikan penghargaan kepada para kontributor yang mampu mencapai peringkat dua dan tiga (peringkat satu ya tetep mastah Imanuel, gak keitung). Peringkat dua penerjemahan adalah Badik Irwan dan peringkat dua penerjemahan adalah Chila. Penghargaan yang diberikan mentor adalah sebuah buku catatan dan buku “Menulis Buku dengan LibreOffice” karya Pak Sokibi.

Acara belum usai. Kali ini giliran Fadhil unjuk gigi mengenalkan sistem operasi openSUSE dan acara OSAS (openSUSE.Asia Summit) 2019 yang akan diadakan di Pulau Dewata, Bali, pada kuartal ke-4 bulan ke-2 tahun 2019.

Pengenasan openSUSE dan promosi acara OSAS (openSUSE.Asia Summit) 2019

Menjelang akhir acara, kami kedatangan pimpinan STMIK Yadika Bangil yang akan memberikan sambutan dan penutup acara, namun sebelum itu kami foto bersama-sama.

Sesi foto bersama

Pimpinan STMIK Yadika Bangil dalam sambutannya memberikan apresiasi atas hasil yang diperoleh kontributor penerjemahan. Beliau juga berharap agar acara serupa terus diadakan di STMIK Yadika Bangil. Dalam akhir sambutannya, beliau mengetuk mic sebanya tiga kali sebagai tanda ditutupnya acara Penerjemahan LibreOffice Pasuruan. Peserta yang terdiri dari kontributor dan panitia memberikan tepuk tangannya dengan sangat gemuruh seolah-olah puas dengan hasil yang mereka capai hari ini.

Mentor juga menyerahkan cideramata kepada pimpinan STMIK Yadika Bangil yang berupa buku “Menulis Buku dengan LibreOffice” karya Pak Sokibi.

Penyerahan cidera mata oleh mentor penerjemahan

Demikianlah keseruan acara Penerjemahan LibreOffice Pasuruan yang diadakan di STMIK Yadika Bangil selama dua hari. Acara ini disponsori oleh LibreOffice Indonesia dan STMIK Yadika Bangil dan didukung oleh PasuruanDev, Dicoding, KLAS dan KLiM.

Dengan mengikuti kegiatan ini, banyak hal yang saya dapatkan. Terlepas dari kegiatan penerjemahan, saya akhirnya tahu bahwa Jabon adalah kecamatan yang terletak paling selatan di Kabupaten Sidoarjo yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *