Catatan pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS – Sistem operasi berbasis Linux yang dikembangkan Canonical beberapa waktu lalu sempat hype.

Meskipun tidak menjadi trending topik di Twitter Indonesia, antusiasme para pengguna dari beberapa komunitas open source terlihat dari grup internal mereka, baik di Facebook, maupun di Telegram.

Hal itu disebabkan karena pelepasan Ubuntu 20.04 LTS oleh Canonical LTD. pada 24 April tahun ini benar-benar tepat waktu. Selain ketepatan waktu perilisan, Canonical LTD. juga menyematkan dukungan jangka panjang atau LTS pada Ubuntu 20.04 ini.

Dalam catatan ini, saya mengulas berdasarkan dua laptop yang berbeda, Lenovo dan ASUS, keduanya menjalankan sistem operasi Ubuntu, hanya saja berbeda varian. Di laptop Lenovo, saya menggunakan Ubuntu MATE sedangkan di laptop ASUS saya menggunakan Ubuntu “biasa”.

Berikut catatan pasca upgrade dari Ubuntu 18.04 LTS ke Ubuntu 20.04 LTS. Kebanyakan terletak pada komatibilitas aplikasi didalamnya.

Eye of MATE Image Viewer Ngadat

eom atau penampil gambar Eye of MATE tidak bekerja dengan baik. Alih-alih menampilkan gambar yang dibuka, eom hanya menampilkan blank hitam saja.

Eye of MATE galat pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS
Eye of MATE galat pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS

Setelah ngalor-ngidul mencari cara bagaimana memperbaikinya dan masih belum ketemu juga, akhirnya saya iseng untuk membuka gambar dengan Eye of MATE dari Terminal. Berikut perintahnya:

$ eom nama-file-gambar.png

Eh, entah bagaimana, Eye of MATE yang awalnya hanya menampilkan gambar blank hitam, setelah saya mengeksekusi perintah tersebut akhirnya sembuh. Hingga sampai kini, Eye of MATE sudah bisa digunakan tanpa harus dieksekusi dari Terminal.

Masalah ini saya temui di Ubuntu MATE 20.04 LTS.

Galat GEGL version too old pada GIMP

GNU Image Manipulation Program atau yang lebih dikenal dengan GIMP juga tak luput dari masalah saat setelah upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS. GEGL version too old. Galat macam apa lagi ini?

GIMP galat pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS
GIMP galat pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS

Berdasarkan keterangan dari laman AskUbuntu.com, untuk memperbaiki masalah GEGL version too old, hanyalah menghapus PPA official dari GIMP. Untuk dapat menghapus PPA, kita memerlukan paket bernama ppa-purge.

$ sudo apt install ppa-purge

Hapus PPA resmi GIMP dengan perintah berikut:

$ sudo ppa-purge otto-kesselgulasch/gimp

Silahkan reinstall GIMP, hal ini akan memasang ulang semua paket dependency dari repositori Ubuntu.

$ sudo apt install --reinstall gimp

Jika dengan reinstall masalah belum dapat diperbaiki, silahkan hapus dan pasang kembali.

$ sudo apt purge gimp
...
$ sudo apt install gimp

Masalah ini saya temukan di Ubuntu MATE 20.04 LTS

VirtualBox terhapus dan galat setelah dipasang ulang

Dari dua aplikasi virtual yang saya pasang di Ubuntu MATE 20.04 LTS, Libvirt dan VirtualBox, Saat setelah proses upgrade selesai, hanya VirtualBox yang ikut terhapus bersama beberapa paket yang lain. Dibanding Libvirt, saya masih cenderung lebih sering menggunakan VirtualBox. Jadi, mau gak mau saya harus segera memasangnya.

$ sudo apt install virtualbox

Setelah proses pengunduhan paket-paket yang dibutuhkan selesai, sistem secara otomatis memasang paket-paket yang telah diunduh. Disinilah proses instalasinya galat dan sialnya saya lupa buat nge-screenshoot. Proses instalasi akhirnya selesai dengan sederet galat.

Proses instalasinya saja galat, apa lagi saat dijalankan. Akhirnya saya memutuskan untuk menghapusnya kembali.

$ sudo apt purge virtualbox

Anehnya, permasalahan ini hanya terjadi di Ubuntu MATE 20.04 LTS di laptop Lenovo saya, sedangkan di Ubuntu 20.04 LTS di laptop ASUS adek saya aman; VirtualBox tidak ikut terhapus saat proses upgrade.

Karena masalah sudah notok jedok, akhirnya iseng-iseng saya memutuskan untuk memasang VirtualBox-nya dari Software Boutique, toko aplikasi di Ubuntu MATE. Dan boom!.

GNS3 galat karena kesalahan fatal Python

$ gns3
could not find platform independent libraries <prefix>
could not find platform dependent libraries <exec_prefix>
consider setting PYTHONHOME to <prefix>[:<exec_prefix>]
Fatal Python error: Py_Initialize: Unable to get the locale encoding
ModuleNotFoundError: No module named 'encodings'

Current thread ex00007f04a000d740 (most recent call first):
Aborted (core dumped)

Kurang lebih informasi galat yang ditampilkan sistem seperti di atas ini. Awalnya saya hanya mengira kalau si GNS3 ini kehilangan jalur ke variabel PYTHONHOME, ternyata saya salah.

Akhirnya saya menemukan solusinya di laman diskusi komunitas GNS3 fatal Python error. Disana menjelaskan beberapa langkah cara memperbaikinya. Mulai dari memasang ulang GNS3-nya, menambah symbolic link Python, hingga memasang GNS3 via pip3. Dan cara yang work pada kasus saya ini adalah menambah symbolic link untuk Python. Dimana GNS3 membutuhkan Python 3.5.

Pertama-tama, periksa versi Python 3 yang terpasang.

$ python3 --version
Python 3.8.2

Tambahkan symbolic link Python dengan perintah berikut.

$ sudo ln -s /usr/bin/python3.8 /usr/bin/python3.5
Memperbaiki galat GNS3 pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS
Memperbaiki galat GNS3 pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS

Dengan cara di atas, GNS3 bisa dijalankan kembali di Ubuntu MATE 20.04 LTS. It’s like magic.

Tema bawaan amburadul pasca upgrade

Banyaknya masalah pada Ubuntu MATE pasca upgrade ke Ubuntu MATE 20.04 LTS, bukan berarti Ubuntu varian lain juga tanpa masalah. Di laptopnya si Adek yang saya pasang Ubuntu dengan Crazy Rich Desktop juga terdapat masalah.

Galat ini, dimana sistem Ubuntu 20.04 LTS tidak dapat membaca tema baku yang sudah terpasang di Ubuntu 18.04 LTS sebelumnya. Hal ini bisa jadi hal yang wajar, mengingat, GNOME 3, sang Crazy Rich Desktop, di Ubuntu 20.04 LTS sudah dibenamkan tema bawaan, Yaru. Sedangkan Ubuntu 18.04 LTS menggunakan Communitheme, versi lama dari Yaru.

Cara memperbaiki masalah ini cukup mudah. Anda hanya perlu mengatur ulang tema bawaan melalui GNOME Tweak.

Buka Tweak, klik Appearance, pada bagian Application, Cursor, Icons dan Sound silahkan ubah ke Yaru dengan mengeklik bagian opsi tarik-turun.

Memperbaiki masalah tema bawaan di Ubuntu 20.04 LTS via Tweak
Memperbaiki masalah tema bawaan di Ubuntu 20.04 LTS via Tweak

Pengontrol jendela GNOME Tweak tidak konsisten

Entah, apakah ini kutu atau memang seperti itu, semoga setelah pembaruan berikutnya, masalah bisa diatasi. Jika Anda penasaran seperti apa pengontrol jendela GNOME Tweak tidak konsisten, berikut videonya.

Pengontrol jendela Tweak tidak konsisten

Sekali lagi saya garis bawahi, Ubuntu dengan Crazy Rich Desktop di laptop ASUS Adik saya bukanlah mesin yang saya gunakan sehari-hari, jadi, saya tidak bisa mengulas lebih banyak tentang catatan pasca upgrade.

Spotify juga ikutan galat

Dua tahun sebelum lahirnya si Focal Fossa, saya sudah lebih dulu memasang Spotify di Bionic Beaver. Dimana proses pemasangan Spotify ini menggunakan snap. Sudah pada tahu snap, kan?.

Spotify merupkan salah satu dari beberapa aplikasi yang tidak ikut terhapus pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS. Tapi sialnya, Spotify malah galat saat pertama kali dijalankan di Ubuntu 20.04 LTS.

Spotify ( via snap) galat pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS
Spotify ( via snap) galat pasca upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS

Mau tidak mau, ya terpaska harus menghapus Spotify lama (via snap) dan pasang Spotify baru (via Software Boutique).

$ sudo snap remove spotify
Pasang Spotify via Software Boutique
Pasang Spotify via Software Boutique

Masalah ini saya temukan di Ubuntu MATE 20.04 LTS.

Kesimpulan

Bisa dibilang, proses upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS 90% berjalan mulus dan saya tetap suka. Dengan melakukan upgrade dari Ubuntu 18.04 LTS ke Ubuntu 20.04 LTS saya bisa merasakan perubahan besar setelah 2 tahun menggunakan Bionic Beaver. Perubahan lebih baik, ya, tentunya.

Meski begitu, saya tidak merekomendasikan Anda untuk upgrade sekarang, apalagi perangkat Anda membutuhkan paket-paket yang solid dan stabil untuk mendukung produktifitas Anda sehari-hari. Akan lebih baik jika proses upgrade menunggu setidaknya hingga rilis dengan versi 20.04.1 LTS. Toh, dukungan untuk Ubuntu 18.04 LTS masih tersisa sekitar 2 tahun lagi.

Jangan upgrade ke Ubuntu 20.04 LTS sekarang, berat, kamu gak akan sanggup, biar aku saja!. Kalau saya jadi Dilan. Hihi.