Lenovo merupakan salah satu produsen teknologi top dunia. Produk-produk besutannya yang terdiri dari server, komputer desktop, laptop, monitor, hingga ponsel pintar telah membanjiri pasar teknologi. Ketangguhan produknya juga diacungi jempol. Salah satunya adalah Lenovo G400s, laptop entri level lawas yang masih berjalan mulus bahkan setelah digunakan selama 6 tahun.

Dikesempatan kali ini, saya ingin sedikit mengulas Lenovo G400s, laptop yang sudah selama enam tahun menemani saya menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kuliah, hingga pekerjaan kantor. Dengan rentan waktu selama itu, bagaimana kondisinya sekarang?.

Penasaran? Berikut ulasan lengkapnya tentang Lenovo G400s setelah digunakan selama 6 tahun.

Spesifikasi Lenovo G400s

MerkLenovo
SeriG400s
ProsesorIntel Core i3 3110M, 2 core, 4 thread, @2.4 Ghz
GrafisIntel HD Graphics 4000
RAMRamaxel 2GB DDR3 (Support DDR3L)
HDDWB Blue 500GB
LAN10Mbps/100Mbps
Optical DriveDVD RW
Layar14″ HD LED
Tabel Spesifikasi Lenovo G400s

Dipinang sebelum UKK berlangsung

Bagi anak SMK, UKK merupakan salah satu ujian praktik kejuruan yang wajib ditempuh, karena nilai UKK menjadi salah satu penentu kelulusan. UKK akronim dari Uji Kompetensi Kejuruan. Dilaksanakan di penghujung kelas 3 SMK sebelum ujian nasional. Kalau saya gak salah ingat.

Bahkan, satu bulan sebelum UKK dilangsungkan, kami sudah digembleng matang-matang oleh Pak Abdullah. Ya, saya ingat betul. Minimnya perangkat yang ada di lab sekolah waktu itu menjadi alasan utama bagi saya untuk segera memiliki perangkat sendiri.

Lenovo G400s Setelah Digunakan 6 Tahun
Lenovo G400s milik saya

Dengan persetujuan Ayah dan bantuan rekomendasi dari pembimbing magang waktu kelas 2 SMK, akhirnya saya meminang Lenovo G400s di Hitech Mall, Surabaya. Tahun 2014. Tahun lulus sekolah sekaligus tahun dimulainya proses perkuliahan.

Laptop yang mudah dibongkar

Fitur bongkarable tampaknya sudah mulai dihilangkan oleh produsen laptop, tak terkecuali oleh Lenovo sendiri. Tapi tidak dengan produk lawas, si Lenovo G400s. Untuk membongkar laptop ini, saya hanya cukup membuka dua baut yang menutupi bodi bawahnya, lalu tarik sedikit kedepan dan semua komponen didalamnya akan terlihat.

Lenovo G400s Setelah Digunakan 6 Tahun
Bodi bawah Lenovo G400s

Seneng banget pokoknya dengan fitur bongkarable seperti ini. Fitur yang benar-benar memudahkan pemilik laptop untuk memelihara device-nya secara mandiri.

Sekali masuk ke tukang service

Faktor human error-lah yang membuat Lenovo G400s saya harus berurusan dengan tukang service. Tahun 2015, saat proses perkuliahan berlangsung. Braak!. Laptop saya jatuh membentur lantai tepat dibagian layarnya. Sudah bisa Anda bayangkan bagaimana suasana kelas saat itu. Kalau mengingat waktu itu, hati saya masih cenat-cenut.

Saya buru-buru melakukan pemeriksaan singkat saat itu juga. Bezel layar sampai terbuka sebagian akibat jatuh. Tidak hanya itu saja, efek benturan juga membuat layar LCD mengalami masalah yang mirip dengan death pixel dibagian pojok kiri atas. Karena merasa tidak terlalu mengganggu operasi, saya pun membiarkannya.

Keputusan membiarkannya saja ternyata keputusan yang salah. Makin hari efek death pixel makin meluas dan berwarna putih. Setelah saya cermati dengan seksama, ternyata bukan death pixel, melainkan retak. Otomatis harus ganti layar.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membawa Lenovo G400s saya ke Hitech Mall untuk mencari jasa penggantian layar laptop. Biaya penggantian layar saat itu dibandrol sebesar Rp700.000.00 ditambah anti gores Rp65.000.00.

Baterai jebol dua kali

Kuliah itu benar-benar susah, niat dalam hati-pun tidak cukup untuk menebus ijazah dan mempersingkat waktu studi. Hal itu yang mengharuskan laptop Lenovo G400s saya harus selalu dalam posisi on, laptop serasa seperti server. Tiap hari deadline kuis harus segera diselesaikan satu-per-satu.

Karena penggunaan yang buruk, akhirnya, pada semester 6, baterai si Lenovo G400s sudah tidak bisa digunakan, alias jebol. Proses pengisian daya mentok di 0% dengan menampilkan indikator warna merah. Toh digunakan dengan kabel charger masih bisa, saya-pun membiarkannya.

Lenovo G400s Setelah Digunakan 6 Tahun
Baterai baru untuk Lenovo G400s

Penggantian baterai saya lakukan pada tanggal 16 Desember 2019. Setelah saya bekerja, tentunya. Saya membeli baterai melalui Tokopedia dengan harga Rp200.000.00.

Sialnya, baterai tersebut ternyata tidak seawet baterai aslinya dulu. Dipasang 16 Desember 2019, eh, pertengahan bulan Juni 2020 kemarin jebol lagi. Ampun dah.

Cara saya mengoptimalkan Lenovo G400s

Pengoptimalan Lenovo G400s saya lakukan baik secara software maupun hardware. Dari sisi software, saya akhirnya memutuskan menggunakan Ubuntu dari pada Windows. Waktu itu Ubuntu 14.04 LTS yang masih menggunakan antarmuka Unity. Dan terbukti jarang nge-lag dibandingkan saat menggunakan sistem operasi Windows.

Disisi hardware, terhitung sejak mulai kuliah hingga saya lulus dan mendapat pekerjaan, total ada sebanyak tiga kali saya melakukan penyesuaian dua perangkat penting. RAM dan storage.

Penyesuaian pertama saya lakukan dengan menambah kapasitas RAM menjadi 4GB dengan membeli satu keping RAM bertipe SODIMM dengan kapasitas 2GB. Terkesan nanggung banget, tapi ya sudahlah, yang penting buat virtualisasi masih aman. Dengan konfigurasi ini, puji syukur, saya bisa menyelesaikan studi dengan baik.

Kuliah tidak sama dengan bekerja. Meskipun kuliah membutuhkan performa laptop yang baik, ternyata performa perangkat waktu bekerja malah harus lebih baik lagi. Disinilaah saya harus melakukan penyesuaian kembali dengan melakukan upgrade storage. Kali ini saya memilih SSD yang performa R/W-nya dua kali lebih baik dari pada HDD.

Lenovo G400s Setelah Digunakan 6 Tahun
Lenovo G400s saat mengupgrade storage

Waktu itu, ada tiga pilihan merk SSD yang saya incar. Kembali menggunakan WD Blue, Sandisk atau Samsung. Emang rada songong juga sih, hehe. Mengingat ketiga merk tersebut sudah sangat tersohor akan produk storage. Akhirnya, pilihan saya jatuh ke Samsung, yaitu Samsung 860 EVO 250GB yang saya beli di Tokopedia dengan harga Rp687.500.00.

Penggantian tipe storage ini memang sangat terasa pada kecepatan loading-nya. Benar-benar mantul. Mantap betul.

Masih belum puas karena kegiatan multitasking yang masih terhalang dengan kapasitas RAM yang hanya 4GB, bulan berikutnya, Januari 2020, saya upgrade lagi kapasitas RAM menjadi 10GB dengan membeli satu keping RAM berkapasitas 8GB dengan harga Rp425.000. Manusia itu apa emang kayak gini, ya? Wkwkwk.

Kondisi terkini Lenovo G400s

Kondisi terkini laptop Lenovo G400s saya secara fisik memang sudah agak babak-belur. Lihat saja bagian pembuangan udara prosesor yang sudah ompong, engsel juga agak songklak gegara baut-nya dol, port pengisian daya juga agak ngaco, bodi ujung sebelah kanan juga sudah retak. Meski begitu, keyboard masih berfungsi dan gak ada yang ngadat.

Lenovo G400s Setelah Digunakan 6 Tahun
Kondisi pembuangan udara di Lenovo G400s saya

Fisik boleh babak-belur, tapi performa harus tetap jos. Buat apa beli baru kalau yang lama masih bagus?

Kesimpulan

Akhirnya, saya memutuskan untuk tetap merawat Lenovo G400s ini meskipun secara kasat mata, Lenovo G400s seharus-nya sudah menjadi device yang usang mengingat usianya sudah hampir menginjak 7 tahun. Itupun kalau saya abai dengan kondisinya dan performanya.

Memang, kalau kata orang jawa, ngeramut iku luwih abot ketimbang ganti anyar (merawat itu lebih berat; karena butuh biaya lebih, dari pada mengganti dengan yang baru).

Demikian ulasan tentang Lenovo G400s setelah digunakan selama 6 tahun. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.