Tulisan ini saya ketik sebagai opini dan persepsi saya sendiri tanpa ada maksud menyinggung opini maupun persepsi orang lain. Toh itu hak mereka menyebut perangkat lunak bebas sebagai produk “gratisan”. Semua itu berawal dari layanan berbagi foto yang populer dikalangan millenial, yups, Anda pasti tahu. Instagram.

Platform Instagram menyediakan beragam informasi yang menarik dan bisa jadi penghilang jenuh. Dari sekian banyak konten, saya biasanya hanya melihat dua jenis konten. Masakan dan (tentu saja) teknologi terkini, khususnya teknologi perangkat lunak bebas atau yang sering disebut open source (padahal artinya saja udah beda).

Kembali ke topik bahasan. Suatu waktu saya tergoda dengan salah satu postingan netizen yang membagikan informasi terkait Alternatif Software Grafis Versi Gretongan. Tanpa saya tahu arti dari kata gretongan yang belakangan ternyata maksudnya adalah gratisan. Keterangan foto menyebutkan demikian “Para Pencari Gratisan silahkan merapat wkwk”. Udah bilang “gratisan”, pake “wkwk” segala.

Maksudnya apa. Menertawakan kita-kita yang masih belum bisa membeli lisensi aplikasi yang bukan alternatifnya? Emang situ bagaimana?

Saya sangat tidak mempermasalahkan bagaimana postingannya selama informasi tersebut bermanfaat dan berguna. Tapi, yang menjadi agak bermasalah adalah informasi tersebut menjajakan tiga aplikasi yang sangat dihormati dikalangan komunitas perangkat lunak bebas di Indonesia.

GIMP, Inkscape dan Scribus

Tiga aplikasi tersebut memang bisa dikatakan sebagai aplikasi alternatif ketika kita tidak bisa membeli lisensi aplikasi seperti Photoshop, CorelDraw, dan InDesign. Tapi bukan aplikasi “gratisan” juga keles.

Ya, penyebutan “aplikasi gratisan” tidak cocok disematkan untuk ketiga aplikasi tersebut. Karena kata gratisan identik dengan uang.

Lalu bagaimana seharusnya?

Cukup pakai saja sebutan “aplikasi alternatif” atau “perangkat lunak bebas” atau sebutan baik yang lain.

Penyebutan seperti ini untuk menjaga harga diri pengembang yang ada dibalik layar. Mereka dengan susah payah membangun aplikasi alternatif dengan maksud agar tidak ada lagi pembajakan perangkat lunak. Lalu bagaimana mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari? Ini yang menjadi pertimbangan bagaimana seharusnya kita menyebut produk mereka.

Tanpa bermaksud menggurui, mari belajar menjadi lebih baik dimulai dari bagaimana kita memperlakukan produk orang lain dengan tidak memberikan sebutan yang dapat menjatuhkan citra produk tersebut.

Salam Jaya! untuk perangkat lunak bebas.

Share This