Pulau Lusi merupakan sebuah pulau yang terbentuk dari proses endapan dan reklamasi lumpur Sidoarjo. Sebelum bernama Lusi, masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Pulau Sarinah.

Nama Lusi diberikan sekaligus diresmikan oleh Ibu Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan. Lusi berarti Lumpur Sidoarjo.

Pulau Lusi adalah salah satu destinasi wisata yang sudah sedari lama ingin segera saya kunjungi, tapi baru kemarin, 13/07/2019, kesampaian.

Saya tidak sendirian dalam kunjungan wisata ini. Ada Hanafi, Dhoni dan juga Dani. Kami membutuhkan waktu sekitar 40 menit perjalanan untuk sampai ke Dermaga Tlocor.

Dermaga Tlocor

Untuk sampai ke Pulau Lusi bisa ditempuh dari darat dan air. Perjalanan darat, kami mulai dari Candi hingga Dermaga Tlocor, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan Bus Air hingga sampai Pulau Lusi.

Memasuki kawasan Dermaga Tlocor, pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp3.000.00 per-orang. Untuk sampai ke Pulau Lusi, pengunjung bisa memilih akan menggunakan speed boat atau bus air. Kami memilih naik bus air dengan harga tiket Rp.15.000.00 PP per-orangnya.

Sesampainya kami di Dermaga Tlocor, kami membeli tiket bus air dan mendapat antrian kloter bus air berikutnya. Dari pada menunggu lama, kami memilih mencari spot untuk berswafoto. Salah satu spot foto yang bagus adalah berlatar tugu magrove yang menjadi ikon dari Tlocor.

 

Dermaga Tlocor memiliki lahan parkir yang cukup luas, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Tempatnya juga bersih dan terawat. Tapi kurangnya hanya satu. Pepohonan rindang masih sangat sedikit sekali. Sehingga saat matahari sedang terik-teriknya sampai bikin saya mercing-mercing.

Berangkat ke Pulau Lusi

Bus air yang kami nantikan tidak kunjung datang juga. Hal ini dikarenakan tidak ada aturan sampai berapa lama kami jalan-jalan di bagian Pulau Lusi. Pengunjung dipersilahkan untuk menjelajahi sebagian Pulau Lusi sesuka hati mereka. Untuk itulah, bus air yang tadinya mengantar rombongan, kembalinya juga harus membawa.

Bosen juga sih. Sehabis foto-foto cuman ngobrol di tenda tempat tunggu saja. Kami sepakat buat ngisi waktu sambil jajan pentol atau cilok.

Ngomong-ngomong, sampai pentol ditangan saya habis, belum ada juga tanda-tanda bus air kembali ke dermaga. Semakin penasaran saja saya dengan suasana di Pulau Lusi.

Sampai kami terlena dengan lembutnya angin dermaga, tampak dari kejauhan, perahu kuning perlahan mulai mendekat ke dermaga. Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga.

Bus air yang dimaksud adalah perahu bercat kuning yang dapat menampung sekitar 24 orang dan sudah dilengkapi dengan fasilitas standar seperti rompi apung dan motor pendorong. Lumayang banget sih.

Gak pakek lama, sang pengemudi dengan cekatan mengateret bus air dan membelokkannya untuk meninggalkan dermaga. 

Pemandangan Kali Porong sangat epik siang itu. Burung-burung kuntul berjejeran ditepi sungai. Ikan-ikan kecil juga sesekali terlihat meloncat di atas permukaan air. Imajinasi saya mulai bermain-main membayangkan itu adalah kawanan lumba-lumba.

Saya masih terhanyut dengan suasana dan pemandangan Kali Porong. Saking epiknya. Mungkin lain kali saya akan kesini lagi untuk sekedar mengelilingi luasnya Pulau Lusi dari speed boat.

Tidak terasa. Atau saya yang mulai kerasan diatas bus air ini. Pulau Lusi sudah tampak didepan mata.

Pulau Lusi, Sektor Pariwisata Harapan

Sidoarjo. Siapa sih yang tidak kenal dengan Sidoarjo? Atau sebaik apa Anda mengenal Kota Delta ini? Atau Anda malah mengenalnya sebagai Kota Lumpur, misalnya?

Jangan salah sangka dulu. Saya asli Sidoarjo lo. Apapun tentang Sidoarjo bisa membuat saya penasaran. Terutama pada sektor pariwisatanya. Pulau Lusi ini salah satu contohnya.

Setibanya kami di pulau ‘lumpur’, kami disambut dengan tugu besar. Bertulis PULAU LUSI dan dibawahnya terdapat nama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dari sini saya mengerti, kalau pulau ini dikelola langsung oleh KKP melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut.

Tugu tersebut langsung disamber rombongan kami untuk tempat berswafoto. Kami-pun tidak mau ketinggalan. Setelah mengambil beberapa foto dari sudut berbeda, kami melanjutkan perjalanan. Mengelilingi pulau seluas 94 Ha itu.

Cuaca lagi terik-teriknya tapi kami tetap bersemangat. Beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Suwer, jika Anda tepat dalam mengambil posisi dan pencahayaan, saya jamin hasil fotonya bakalan keren. Coba saja mampir ke akun Instagram pengelola Pulau Lusi ini.

Kami tentu tidak mau kalah dengan mereka. Berikut adalah beberapa kumpulan foto yang kami abadikan selama jalan-jalan di Pulau Lusi.

Tidak cukup hanya berjalan-jalan dan mencoba beberapa fasilitas yang ada, kami mencoba spot foto lain. Kali ini di jembatan kayu yang membelah pepohonan mangrove. Tapi, kondisi jembatannya sudah mulai lapuk dan beberapa pagarnya lepas. Padahal tempatnya cukup bagus lo untuk mengabadikan momen.

Secara keseluruhan, Pulau Lusi sangatlah cocok untuk menjadi tempat berwisata dengan teman atau keluarga. Pemandangan yang disuguhkan alam saat menaiki bus air benar-benar bikin kerasan. Begitu juga saat memasuki pulau. Tugu, jembatan, jalan, dan pemandangannya juga dapat menjadi racikan sempurna untuk potret momen Anda.

Disamping semua keindahan alam yang ditawarkan Pulau Lusi, memang masih ada sedikit kekurangannya. Tapi bagi saya hal itu masih gak terlalu masalah. Banyak juga tempat-tempat yang instagramable, seperti beberapa foto di atas.

Hari semakin sore, tidak terasa kami menghabiskan waktu selama 1.5 jam berada di Pulau Lusi. Kali Porong juga mulai surut. Tapi keindahannya masih bisa menyeret saya untuk kembali lagi.

Kami kembali ke pintu masuk Pulau Lusi untuk kembali ke Dermaga Tlocor. Perbekalan kami, khususnya air mineral sudah ludes sedari tadi. Badan mulai dehidrasi. Memang sih, di Pulau Lusi juga ada penjual minuman dan makanan ringan, tapi gak kepikiran saja buat beli. Malah masih sempat-sempatnya mengambil gambar.

Beli BBM Sampai Kepincut dengan Mie Ayam Murah

Parkiran motor Dermaga Tlocor yang tadinya ramai malah tinggal motor kami saja. Kami mendapat ucapan terima kasih dari pengelola. Baik banget. Terima kasih kembali, jawab kami.

Rute panjang nan lurus kembali dimulai. Tapi saya lebih memilih berbelok dan masuk ke jalan tol yang dulu menghubungkan Surabaya – Gempol via Porong. Dari rute ini nantinya kami akan sampai ke Tanggulangin atau Lingkar Timur.

Masih di daerah Jabon, Dhoni memberi instruksi untuk membeli BBM. Kami berhenti tepat setelah pertigaan. Saya menunggu Dhoni mengisi BBM disebelah kanan jalan.

Tiba-tiba si Dhoni seperti memberi kode sesuatu. Ternyata, kode yang dimaksudkan adalah adanya sebuah warung yang bersebelahan dengan penjuan BMPJ (BBM Pinggir Jalan) yang bertulis Mie Ayam. Cocok. Iwak endok gak onok erine.

Dimana lagi coba, mie ayam harganya Rp.6.000.00 per-porsi, lengkap dengan sayur, timun, ceker dan pangsitnya. Es tehnya juga Rp.3.000.00.

Memang, sepertinya badan sudah lapar dan haus. Tadinya saat pulang dari Pulau Lusi kepala sudah tampak berat. Seporsi mie ayam dan segelas es teh manis seolah menjadi obatnya.

Energi sudah terisi, kini saatnya kembali. Setelah membayar makanan dan minuman yang kami pesan, kami berangkat. Dengan tujuan Tanggulangin – Candi.

Inilah Sidoarjo. Kota Delta yang selalu punya cerita untuk diulas. Oleh saya, Anda, dan siapapun yang pernah mengenalnya.